Iran Tak Akan Segan Balas Tiap Serangan Amerika: Perjanjian Harus Berlaku Dua Arah
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan ragu memberikan respons terhadap setiap serangan maupun ancaman dari Amerika Serikat (AS). Menurutnya, implementasi memorandum kesepahaman hanya dapat berjalan apabila kedua belah pihak sama-sama menghormati isi perjanjian.
Pernyataan tersebut disampaikannya di tengah masih rapuhnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Hal itu usai kedua negara sempat saling melancarkan serangan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Datang Tiba-tiba, Inilah Sosok Pihak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo di Kasus Ijazah Jokowi
"Pemahaman adalah persoalan dua arah. Jika pihak musuh mematuhi memorandum tersebut, kami juga akan memenuhi komitmen kami," kata Pezeshkian, dikutip Selasa (30/6).
Ia menegaskan bahwa pihaknya tetap mendukung penyelesaian melalui jalur diplomasi. Namun, Iran juga tidak akan tinggal diam apabila menghadapi ancaman ataupun tindakan yang dinilai melanggar kesepakatan.
Menurut Pezeshkian, respons pihaknya terhadap apa yang disebutnya sebagai "retorika yang tidak masuk akal dan ancaman tanpa dasar" adalah mengedepankan rasionalitas dan martabat manusia dalam setiap pengambilan keputusan, tetapi tetap siap bertindak secara tegas dan tanpa rasa takut apabila situasi mengharuskannya.
Pernyataan tersebut muncul setelah akhir pekan lalu terjadi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Washington melancarkan dua serangan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Teheran. Sementara Iran menuding justru sebaliknya ke Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa pihaknya dapat kembali menggunakan kekuatan militer apabila musuh terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Trump bahkan menyatakan negaranya siap "menyelesaikan pekerjaan secara militer" apabila situasi kembali memburuk.
Meski demikian, ketegangan kedua negara untuk sementara mereda setelah seorang pejabat pemerintahan mengonfirmasi adanya kesepakatan untuk menghentikan serangan dari Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Selain itu, Amerika lainnya mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah menyetujui pertemuan lanjutan yang akan digelar di Doha, Qatar. Trump sendiri mengaku belum dapat memastikan hasil dari pertemuan tersebut.
"Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak. Kita akan melihat nanti," ujar Trump.
Meski membuka ruang diplomasi, ia tetap menegaskan bahwa tujuan utama pihaknya tidak berubah, yakni memastikan tidak ada senjata nuklir yang dimiliki oleh Iran.
"Kami menang secara militer. Saya kira hampir selesai secara militer. Ini sebenarnya sangat sederhana. Tujuannya adalah denuklirisasi Iran. Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya. Sejujurnya, mereka juga telah menyetujui hal itu," kata Trump.
Baca Juga: Safari Politik Lampung Jadi Sinyal Tutup Buku Koalisi Jokowi-Prabowo
Pernyataan Presiden Pezeshkian menunjukkan bahwa mereka masih membuka pintu dialog dengan Amerika Serikat. Namun, Teheran juga memberikan sinyal tegas bahwa setiap kesepakatan hanya akan bertahan apabila kedua negara sama-sama mematuhi komitmen yang telah disepakati. Bagi Iran, prinsip timbal balik menjadi syarat utama untuk menjaga keberlangsungan proses diplomasi sekaligus mencegah konflik kembali memanas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: