Harga Bensin Masih Kemahalan, Presiden Curiga Ada Permainan di Tengah Redanya Konflik Iran-Amerika
Kredit Foto: My Pertamina
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencurigai adanya praktik permainan harga bahan bakar minyak (BBM) setelah harga bensin di negaranya dinilai belum juga turun secara signifikan, meski redanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timue Tengah.
Trump menilai harga bensin yang masih tinggi tidak lagi mencerminkan kondisi pasar global. Menurutnya, penurunan harga minyak mentah seharusnya sudah diikuti dengan penurunan harga di tingkat konsumen. Ia endesak seluruh pengecer bahan bakar agar segera menurunkan harga bensin.
Baca Juga: Diakui Menteri Trump, Amerika Serikat Gembira Bisa Persulit Iran di Piala Dunia 2026
"Harga bensin harus diturunkan SEGERA!" tegas Trump, dikutip Rabu (1/7).
Ia menilai harga yang masih berlaku dalam stasiun pengisian bensin terlalu mahal, bahkan setelah harga minyak mentah kembali ke level sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Tanpa menyebut bukti atau pihak tertentu, ia mengisyaratkan adanya dugaan praktik pengambilan keuntungan secara berlebihan atau price gouging di kalangan penjual bahan bakar.
Menurutnya, praktik semacam itu merupakan tindakan yang melanggar hukum dan dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi pelaku usaha.
Trump bahkan memperingatkan para pengecer akan menghadapi "masalah besar" apabila tetap mempertahankan harga yang dinilai tidak wajar.
Presiden AS tersebut berharap harga bensin dapat ditekan hingga sekitar US$2,50 per galon. Angka itu bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata harga sekitar US$2,93 per galon sebelum pecahnya konflik dengan Iran.
Namun, berdasarkan data pemantau harga, rata-rata harga bensin nasional pada hari ini masih berada di kisaran US$3,85 per galon di Amerika Serikat. Meski turun dibandingkan pekan lalu yang mencapai US$4,02 per galon, harga tersebut masih jauh di atas target yang diinginkan Trump.
Perang Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat mendorong harga bensin melampaui US$4,50 per galon. Lonjakan tersebut ikut meningkatkan tekanan inflasi karena biaya energi menjadi lebih mahal.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak dunia terus melemah setelah kedua negara mencapai kesepakatan perdamaian sementara yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi rute pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga pembukaannya langsung disambut positif oleh pasar energi global.
Meski demikian, situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil. Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara kembali terlibat aksi saling serang yang sempat mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Hal itu memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.
Baca Juga: Ukraina Klaim Jadi Penyebab Kelangkaan Bensin di Rusia, Zelensky: Begitulah Kami Merespons Putin
Trump, meski demikian, menilai tidak ada alasan bagi harga bensin untuk tetap tinggi. Ia pun mencurigai bahwa lambatnya penurunan harga bukan semata-mata dipengaruhi kondisi pasar, melainkan kemungkinan adanya permainan harga di tingkat distribusi dan penjualan bahan bakar. Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintahannya siap mengambil langkah apabila ditemukan praktik yang dinilai merugikan konsumen di Amerika.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: