Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Dibuka Menguat di Tengah Tekanan Manufaktur dan Outlook Fitch

        IHSG Dibuka Menguat di Tengah Tekanan Manufaktur dan Outlook Fitch Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya. 

        Berdasarkan data RTI Business hingga pukul 09.01 WIB, IHSG naik 26,44 poin atau 0,46% ke level 5.721,557.

        IHSG sempat bergerak di rentang 5.704,499 hingga 5.726,974. Sebanyak 220 saham menguat, 143 saham melemah, dan 234 saham bergerak stagnan. 

        Nilai transaksi tercatat mencapai Rp392,39 miliar dengan volume perdagangan 527,37 juta saham dalam 45.256 kali transaksi

        Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG telah rebound namun tanpa meyakinkan meskipun “wave (b)” and “wave (b) alt.” terdeteksi. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume. 

        "Sentimen IHSG diperkirakan cenderung variatif dan berpotensi terkonsolidasi setelah sempat rebound 0,92% pada perdagangan hari sebelumnya," kata Nafan dalam analisanya.

        Nafan menyebut hasil perilisan data ekonomi di awal Juli ini memberikan tekanan yang cukup signifikan pada fundamental market. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia per Juni 2026 turun ke level 46,9 sehingga masuk ke zona kontraksi dari bulan sebelumnya pada level 50. 

        Inflasi tahunan meningkat ke 3,34% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,08% YoY dan berada di atas konsensus sebesar 3,2%. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar dan merupakan defisit pertama sejak April 2020. 

        Baca Juga: Fitch Keluarkan Warning ke Indonesia, Rupiah hingga Suku Bunga Tinggi Ancam Korporasi

        Baca Juga: IHSG Rebound! Sektor Energi Jadi Motor Penguatan

        Bahkan nilai tukar rupiah masih menghadapi depresiasi 0,25% menjadi Rp17.952 per dolar AS, dipicu tren penguatan dolar secara global dan berlanjutnya arus modal keluar dari pasar domestik, yang membuat para pelaku investor cenderung lebih prudent.

        Sementara itu, Fitch menyampaikan bahwa risiko terhadap kepercayaan investor terhadap Indonesia meningkat, meskipun fundamental ekonomi secara umum masih cukup kuat. Oleh karena itu, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade), tetapi menurunkan outlook menjadi negative. 

        "Selama peringkat BBB masih dipertahankan, maka semestinya konsekuensi bersifat relatif lebih terbatas dibandingkan apabila terjadi downgrade peringkat kredit," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: