Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Inflasi Juni Tembus 3,08%, BPS Sebut Karena BBM dan Bawang Merah

        Inflasi Juni Tembus 3,08%, BPS Sebut Karena BBM dan Bawang Merah Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menegaskan fundamental ekonomi Jawa Barat tetap berada dalam kondisi ekspansif dan resilien pada pertengahan 2026. Kenaikan inflasi pada Juni dinilai tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah yang ditopang oleh menguatnya daya beli petani serta surplus neraca perdagangan luar negeri.

        Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan inflasi Jawa Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,70 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,08 persen.

        Menurut Ari, kenaikan inflasi terutama dipicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95. Komoditas bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,21 persen.

        Selain faktor energi, musim kemarau yang mulai berlangsung pada pertengahan tahun turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan akibat berkurangnya pasokan.

        "Bawang merah memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen, bawang putih 0,02 persen, sedangkan beras dan tomat masing-masing menyumbang 0,01 persen," ujar Ari dalam rilis BPS, Rabu (1/7/2026).

        BPS juga mencatat pergerakan harga komoditas global turut memengaruhi inflasi di Jawa Barat. Kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional mendorong naiknya harga minyak goreng kemasan di dalam negeri. Sementara itu, fluktuasi nilai tukar rupiah menyebabkan harga komoditas impor seperti bawang putih ikut meningkat.

        Meski tekanan inflasi meningkat, BPS menilai fundamental ekonomi Jawa Barat tetap kuat. Hal itu tercermin dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP), aktivitas sektor pariwisata dan transportasi yang tetap tumbuh, serta surplus neraca perdagangan luar negeri yang mencapai USD11,31 miliar.

        Berdasarkan pemantauan di sejumlah daerah, Kota Depok mencatat inflasi bulanan tertinggi di Jawa Barat sebesar 0,42 persen (mtm). Sementara itu, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Majalengka sebesar 3,40 persen, disusul Kota Bandung sebesar 3,37 persen.

        Baca Juga: BI: Inflasi Jawa Barat Hanya 0,28%, Terendah di Pulau Jawa

        Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan di Jawa Barat Kini Bisa Lewat WhatsApp, Ini Caranya!

        Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas pangan membantu menahan laju inflasi. Komoditas yang mencatat deflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas, dan cabai merah.

        Menurut BPS, kombinasi surplus perdagangan, menguatnya daya beli petani, serta inflasi yang tetap terkendali menunjukkan fundamental ekonomi Jawa Barat masih kokoh di tengah tantangan musiman dan dinamika ekonomi global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: