Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Tancap Gas ke Level 5.846 Meski Dibayangi Defisit Neraca Dagang

        IHSG Tancap Gas ke Level 5.846 Meski Dibayangi Defisit Neraca Dagang Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tancap gas dan dibuka menguat signifikan pada awal perdagangan akhir pekan, Jumat (3/7/2026) pagi.

        Berdasarkan data RTI Business pada pukul 09.01 WIB, IHSG melesat 1,77% atau bertambah 101,444 poin ke level 5.846. Pada pembukaan perdagangan, indeks saham acuan domestik ini langsung dibuka di zona hijau pada level 5.806.

        Hanya beberapa menit setelah pasar dibuka, IHSG bergerak perkasa dan sempat menyentuh level tertinggi hariannya di 5.848. Sementara itu, level terendah pagi ini tercatat berada di posisi 5.805.

        Volume saham yang ditransaksikan telah mencapai 587,664 juta lembar saham dengan nilai penggalangan dana atau turnover mencapai Rp384,762 miliar. Adapun frekuensi perdagangan yang tercatat berada di angka 43.715 kali transaksi.

        Secara sektoral, pergerakan saham didominasi oleh tren positif. Tercatat sebanyak 312 saham bergerak menguat, 86 saham melemah, dan 207 saham lainnya stagnan alias tidak mengalami perubahan harga.

        Adapun nilai kapitalisasi pasar IHSG di awal perdagangan Jumat pagi ini tercatat bertengger di angka Rp10.245,616 triliun.

        Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal, pergerakan berhasil menunjukkan resiliensinya sejak “wave (b)” terbentuk sebelumnya. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif mengingat sebenarnya “wave (b) alt” masih terlihat, namun volume mulai mengalami penaikan.

        "Meskipun IHSG berhasil menguat selama dua hari terakhir, arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten sehingga berpotensi membatasi kenaikan indeks," kata dia dalam analisanya.

        Nafan menyebut nilai tukar rupiah saat ini masih terdepresiasi 0,24% pada Rp17.995 yang dipicu berlanjutnya aksi jual dan capital outflow oleh investor asing. Sepanjang semester I-2026, dana asing tercatat keluar secara masif sebesar Rp86,81 triliun secara year to date.

        Adapun inflasi tahunan meningkat ke 3,34% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,08% YoY dan berada di atas konsensus sebesar 3,2%, membuat BI Rate di level 5,75% masih berpotensi dipertahankan tinggi atau bahkan naik jika tekanan nilai tukar rupiah berlanjut.

        Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar dan merupakan defisit pertama sejak April 2020, memicu kekhawatiran atas stabilitas fundamental ekonomi jangka pendek.

        Para pelaku pasar juga mulai mencermati pengumuman kupon ORI030 yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat ini. Adapun masa penawaran resmi ORI030 akan langsung dibuka mulai hari Senin, 6 Juli hingga 30 Juli 2026.

        "Bagi manajer investasi maupun investor ritel, instrumen ini merupakan alat diversifikasi yang sangat ideal untuk menyeimbangkan portofolio yang sedang tertekan oleh volatilitas ekuitas," ungkap dia.

        Dari global, hasil perilisan data US nonfarm payroll per Juni 2026 menunjukkan bahwa ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja baru, meleset signifikan dari konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 110.000, serta melambat tajam dibanding bulan Mei yang mencatat pertumbuhan kuat sebesar 172.000.

        Adapun unemployment rate turun menjadi 4,2% dari bulan sebelumnya 4,3%, serta Average Hourly Earnings Mengalami kenaikan tipis menjadi 3,5% secara YoY, naik dari 3,4% secara YoY pada bulan sebelumnya.

        "Hasil ini tentunya membuat peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya meningkat, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi lebih kecil," ungkap dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: