Kredit Foto: Istimewa
PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten pengolahan udang beku yang sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep melalui PT Harapan Bangsa Kita atau GK Hebat, menghadapi utang bank sedikitnya US$160,13 juta atau sekitar Rp2,56 triliun per 31 Mei 2026, di luar utang bunga. Perseroan tengah menjalankan restrukturisasi kredit dengan enam bank dan lembaga pembiayaan, sementara operasionalnya hanya ditopang satu pabrik di Situbondo akibat keterbatasan modal kerja.
Nilai utang tersebut terdiri atas fasilitas PT Bank Permata Tbk sebesar US$53,12 juta atau setara Rp953,39 miliar, PT Bank Central Asia Tbk US$40,29 juta atau Rp723,04 miliar, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) US$30,71 juta atau Rp551,15 miliar.
PMMP juga mencatat kewajiban kepada PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta atau sekitar Rp409,12 miliar, PT Bank Maspion Indonesia Tbk US$7,21 juta atau Rp129,48 miliar, serta PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta atau Rp107,56 miliar.
Dengan demikian, total kewajiban pokok kepada enam kreditur tersebut mencapai US$160,13 juta atau setara Rp2,87 triliun, dengan mengacu pada kurs sekitar Rp17.925 per dolar AS. Nilai tersebut belum memasukkan kewajiban bunga.
PMMP menyatakan restrukturisasi dengan Bank Permata telah memasuki tahap perjanjian kredit melalui Perjanjian Kredit Nomor 137/BP/LOO/CRC-SBY/COMM/XII/2025 tertanggal 22 Desember 2025. Sementara proses restrukturisasi dengan Bank Resona Perdania, Bank SMBC Indonesia, Bank Maspion, BCA, dan LPEI masih menunggu keputusan komite kredit masing-masing bank.
“Untuk saat ini Perusahaan masih terkendala dengan modal kerja sehingga hanya satu plant saja yang masih beroperasi,” tulis manajemen PMMP dalam jawaban atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia, dikutip Senin (7/7/2026).
Perseroan menyatakan membutuhkan modal kerja US$15 juta atau sekitar Rp268,88 miliar untuk menjalankan kegiatan operasional. PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu fasilitas produksi di Situbondo dan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.
“Kendala terbesar Perusahaan saat ini adalah pada Modal Kerja,” kata Direktur Utama PT Panca Mitra Multiperdana Tbk, Martinus Soesilo, dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (7/7/2026).
Keterbatasan operasi juga berdampak terhadap tenaga kerja. PMMP menyatakan telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 staf dan 79 pekerja harian sejak 2024 hingga saat ini. Perseroan juga mencatat 82 staf mengundurkan diri.
“Pemutusan hubungan kerja dengan karyawan dikarenakan penurunan kapasitas produksi. Jumlah karyawan yang di-PHK sejak tahun 2024 sampai dengan saat ini sebanyak 37 orang staf, 79 orang harian. Serta 82 staf resign,” ungkap Martinus.
Di tengah proses restrukturisasi, PMMP masih belum menyampaikan laporan keuangan audit tahun buku 2025. Perseroan menyatakan proses audit masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026. PMMP juga berencana membayar denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan secara bertahap.
Untuk memperbaiki struktur permodalan, perseroan menyiapkan rencana penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) dan konversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui medium term notes (MTN).
Pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2025, PMMP membukukan rugi periode berjalan US$15,10 juta atau setara Rp264,27 miliar. Penjualan neto perseroan turun menjadi US$7,10 juta atau sekitar Rp124,24 miliar, dari US$20,28 juta atau Rp354,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Anabatic Rights Issue (ATIC) Rp289 Miliar untuk Bayar Utang ke Pemegang Saham
Baca Juga: Grup Prajogo Pangestu Kantongi Dana Rp2,25 Triliun dari Surat Utang
Baca Juga: Masyarakat Makin Gemar Tarik Utang, Pembiayaan Pinjol Tembus Rp102 Triliun per April 2026
Beban pokok penjualan PMMP mencapai US$7,40 juta atau sekitar Rp129,52 miliar, melampaui penjualan neto. Perseroan pun mencatat rugi bruto US$301.375 atau sekitar Rp5,27 miliar, berbalik dari laba bruto US$3,66 juta atau Rp63,96 miliar pada kuartal I-2024.
Per akhir Maret 2025, PMMP mencatat defisiensi modal US$51,50 juta atau sekitar Rp901,32 miliar. Total liabilitas jangka pendek perseroan mencapai US$257,13 juta atau Rp4,50 triliun, sedangkan aset lancar berada pada US$160,12 juta atau sekitar Rp2,80 triliun.
Berdasarkan laporan bulanan pemegang saham Mei 2026, PT Harapan Bangsa Kita tercatat memiliki 29,25 juta saham PMMP atau 1,13%. Pemegang saham pengendali PMMP adalah PT Tiga Makin Jaya dengan kepemilikan 2,22 miliar saham atau 85,85%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: