Diakui Profesor, Legitimasi Piala Dunia 2026 Retak karena Manuver Amerika dan FIFA
Kredit Foto: Istimewa
Kontroversi Piala Dunia 2026 dinilai telah mengguncang kepercayaan publik terhadap integritas turnamen itu, menyusul sejumlah keterkaitannya dengan hubungan yang dimiliki oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).
Profesor olahraga dari Emlyon Business School, Simon Chadwick menilai rangkaian peristiwa tersebut telah membuat batas antara sepak bola dan politik semakin kabur. Menurutnya, citra piala dunia ikut tercoreng karena publik kini mulai meragukan apakah setiap keputusan benar-benar diambil berdasarkan aturan atau dipengaruhi kepentingan lain.
Baca Juga: Supporter Amerika Ngamuk, Donald Trump Bikin Rusak Citra The Yanks di Piala Dunia 2026
"Setelah kasus Balogun, siapa yang tahu keputusan mana yang sah dan dapat dipercaya, dan mana yang tidak?" kata Simon Chadwick, dikutip Rabu (8/7).
Kontroversi piala dunia sebenarnya dimulai jauh sebelum pertandingan, melalui kebijakan yang mempersulit sejumlah pemain timnas masuk ke Amerika Serikat. Hal ini berlanjut oleh manuver mengejutkan dari Donald Trump.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya meminta federasi sepak bola meninjau ulang hukuman larangan satu pertandingan terhadap Penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. FIFA kemudian mencabut sanksi tersebut sehingga sang pemain dapat tampil saat menghadapi Belgia. Meski demikian, mereka akhirnya tetap tersingkir setelah kalah telak 1-4.
Pertandingan Argentina vs Mesir juga kembali memancing kritik. Mesir yang sempat unggul dua gol akhirnya kalah 2-3 setelah wasit menganulir gol kedua mereka karena pelanggaran yang dinilai terjadi jauh sebelum bola masuk ke gawang.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan bahkan menduga ada faktor di luar aspek teknis yang menguntungkan Argentina dan Lionel Messi.
"Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan di turnamen. Dalam sepak bola, terkadang ada faktor-faktor eksternal yang melampaui aspek teknis. Juara dunia mendapat dukungan di setiap level," ujar Hassan.
Chadwick mengatakan keputusan-keputusan yang muncul sepanjang pertandingan semakin memperbesar keraguan terhadap konsistensi penerapan VAR. Ia mempertanyakan mengapa pelanggaran yang menjadi dasar pembatalan gol baru diproses setelah gol tercipta, padahal wasit tidak meniup peluit saat insiden itu terjadi.
"Ada sesuatu yang sangat tidak biasa dalam keputusan wasit terhadap gol tersebut. Hal itu semakin diperkuat ketika salah satu tim kemudian mencetak salah satu golnya," kata Chadwick.
Menurutnya, standar kepemimpinan wasit terlihat tidak konsisten karena pada proses gol kemenangan juga terdapat insiden yang dinilai bisa dianggap sebagai pelanggaran, tetapi tidak mendapat peninjauan VAR.
Meski demikian, ia menegaskan dirinya tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan adanya pengaturan pertandingan demi menguntungkan Argentina atau Lionel Messi. Namun ia mengakui bahwa keberadaan pemain bintang itu memiliki nilai komersial yang sangat besar bagi penyelenggara turnamen.
"Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah daya tarik utama yang sulit untuk tidak dimiliki turnamen ini."
Chadwick juga menyinggung hubungan politik antara Donald Trump dan Presiden Argentina Javier Milei. Ia mengingatkan bahwa politikus itu dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Trump.
Menurutnya, di tengah kontroversi yang sudah terjadi sebelumnya, hubungan tersebut membuat publik semakin mudah mengaitkan berbagai keputusan kontroversial dengan faktor politik, meski belum tentu memiliki hubungan langsung.
Adapun Analis Sepak Bola Ali El Garni memiliki pandangan yang lebih moderat. Ia menilai keputusan-keputusan wasit memang berada dalam kategori yang bisa diperdebatkan, meski seluruh momen krusial pada akhirnya lebih banyak menguntungkan pihak dari Argentina.
"Mungkin terlalu berlebihan jika menyebut ada perampokan ke Mesir. Saya melihat keputusan wasit sebenarnya bisa mengarah ke dua sisi. Namun Argentina mendapatkan keuntungan dari seluruh momen 50:50," ujarnya.
Meski berbeda pandangan mengenai keputusan pertandingan, para pengamat sepakat bahwa kontroversi beruntun selama piala dunia tahun ini telah memunculkan pertanyaan besar mengenai transparansi penggunaan teknologi dan independensi FIFA.
Baca Juga: 85 Fasilitas Amerika Diserang, Iran Tak Akan Biarkan Trump Ganggu Pemakaman Ali Khamenei
Bagi Simon Chadwick, kepercayaan publik terhadap turnamen akan sulit dipulihkan apabila badan sepak bola dunia tidak mampu memberikan penjelasan yang lebih terbuka terhadap setiap keputusan kontroversial yang terjadi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar