Amerika Waspada, Trump Klaim Jadi Target Pembunuhan Utama Iran
Kredit Foto: Reuters
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku dirinya menjadi target utama pembunuhan oleh Iran. Namun, ia menegaskan ancaman tersebut tidak akan memengaruhi sikap maupun kebijakannya.
Trump kembali mengungkap bahwa dirinya berada di urutan teratas dalam daftar target yang diincar Teheran. Hal tersebut menyusul serangan yang menewaskan sosok dari Ali Khamenei.
Baca Juga: Trump Ngamuk, Kebohongan Iran Saat Negosiasi Akhirnya Diungkap Amerika
"Saya nomor satu dalam daftar target pembunuhan oleh Iran," kata Trump, dikutip Kamis (9/7).
Trump menyebut sejumlah pemimpin dari negara tersebut telah berganti akibat konflik yang berlangsung. Menurutnya, hal tersebut bisa terulang lagi jika perang kembali terjadi antara Iran dan Amerika Serikat.
"Mereka punya pemimpin, sekarang sudah tidak ada. Mereka punya kelompok pemimpin berikutnya, sekarang juga sudah tidak ada. Sekarang mereka punya pemimpin baru. Mereka juga mungkin akan hilang. Siapa yang tahu?" ujarnya.
Meski mengakui dirinya menjadi sasaran utama dari negara tersebut, sang presiden mengatakan ia sama sekali tidak merasa khawatir.
"Saya juga mungkin akan hilang karena saya target nomor satu mereka."
Namun, ia langsung menambahkan bahwa ancaman tersebut tidak membuatnya gentar. Menurutnya, ia hanya menjalankan tugas sebagai presiden dari Amerika Serikat.
"Saya benar-benar tidak peduli karena saya sedang menjalankan tugas saya. Saya berharap saya melakukannya lebih baik daripada siapa pun sebelumnya, karena negara kita sedang kuat dan sangat sukses," kata Trump.
Menurut Trump, ia hanya menyampaikan informasi tersebut karena fakta bahwa namanya memang disebut sebagai target oleh Iran.
Ancaman terhadap politikus itu sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2019, banyak ancaman pembunuhan terhadapnya setelah pemerintahannya memerintahkan serangan pesawat nirawak yang menewaskan Komandan Garda Revolusi Iran Jenderal Qassem Soleimani.
Pernyataan Trump disampaikan di tengah memanasnya hubungan Washington dan Teheran. Amerika Serikat menyerang sejumlah target militer dari negara tersebut sebagai respons atas serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer Amerika Serikat di Teluk.
Baca Juga: Cuitan-cuitan Ini Bikin Jokowi Tersinggung hingga Ingin Penjarakan Dokter Tifa di Kasus Ijazah
Meski situasi keamanan semakin memanas, politikus itu menegaskan dirinya tetap akan menjalankan kebijakan yang menurutnya diperlukan demi kepentingan negaranya tanpa memedulikan ancaman yang ditujukan kepadanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: