Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat Nilai Lelang Frekuensi Belum Otomatis Percepat 5G, Ekosistem Masih Jadi PR

        Pengamat Nilai Lelang Frekuensi Belum Otomatis Percepat 5G, Ekosistem Masih Jadi PR Kredit Foto: Antara
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rampungnya seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai menjadi langkah penting bagi pengembangan jaringan 5G di Indonesia. Pengamat mengatakan tambahan spektrum saja belum cukup untuk mempercepat implementasi 5G apabila tidak diikuti pembangunan ekosistem yang memadai.

        Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan hasil lelang frekuensi memang menjadi fondasi bagi pengembangan jaringan 5G. Meski begitu, ia menilai proses tersebut belum bisa disebut sebagai titik balik percepatan 5G nasional.

        "Lelang ini merupakan langkah penting, tetapi belum tentu menjadi titik balik jika tidak diikuti pembangunan ekosistem 5G. Spektrum adalah fondasi, namun operator juga membutuhkan investasi jaringan, perangkat yang semakin terjangkau, serta layanan yang benar-benar memanfaatkan 5G," kata Heru kepada Warta Ekonomi, Senin (14/7/2026).

        Menurutnya, percepatan implementasi 5G membutuhkan kolaborasi pemerintah dan industri, bukan hanya penyediaan spektrum frekuensi. Sebab, pembangunan jaringan akan berjalan bertahap selama adopsi perangkat dan layanan berbasis 5G masih terbatas.

        "Agar menjadi titik balik, pemerintah dan industri harus bergerak bersama membangun ekosistem, bukan hanya menyediakan spektrum," lanjutnya.

        Heru menjelaskan, tantangan terbesar setelah lelang bukan lagi soal ketersediaan spektrum, melainkan kemampuan operator menggelontorkan investasi jaringan sekaligus memperoleh pengembalian investasi (return on investment/ROI).

        "Tantangan terbesar justru ada pada investasi jaringan, kemampuan operator memperoleh pengembalian investasi, serta adopsi pengguna yang masih terbatas," ujarnya.

        Ia menilai, dalam jangka pendek masyarakat justru lebih cepat merasakan peningkatan kualitas jaringan seluler dibandingkan manfaat 5G secara luas. Tambahan spektrum, khususnya di pita 700 MHz, diperkirakan akan meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperluas cakupan internet di wilayah yang selama ini belum terlayani optimal.

        "Dalam jangka pendek, masyarakat kemungkinan lebih cepat merasakan peningkatan kualitas jaringan, baik dari sisi kecepatan maupun stabilitas. Di daerah yang belum terlayani optimal, pita 700 MHz juga akan membantu memperluas cakupan layanan. Sementara manfaat 5G secara luas akan dirasakan secara bertahap," katanya.

        Lebih lanjut, Heru menilai pemerintah tidak cukup hanya menyelesaikan lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Menurutnya, Indonesia masih membutuhkan roadmap spektrum yang lebih panjang agar pengembangan 5G dapat berjalan optimal.

        Baca Juga: Tak Ada yang Operator Mendominasi, Pengamat Sebut Pembagian Frekuensi Bikin Persaingan Makin Sehat

        Ia mengatakan pita 3,5 GHz tetap menjadi tulang punggung implementasi 5G Standalone (SA), sementara pita 6 GHz mulai perlu dipersiapkan untuk mendukung evolusi menuju 5G Advanced hingga 6G.

        "Spektrum ini merupakan fondasi yang jauh lebih baik untuk mengembangkan 5G Standalone, tetapi menurut saya masih belum cukup. Ke depan Indonesia tetap membutuhkan pita 3,5 GHz sebagai tulang punggung 5G, bahkan mulai menyiapkan 6 GHz untuk evolusi menuju 5G Advanced dan 6G. Pemerintah perlu melanjutkan roadmap spektrum agar kapasitas jaringan mampu mengikuti pertumbuhan AI, cloud, dan ekonomi digital," tutur Heru.

        Sebelumnya, Komdigi telah mengumumkan hasil seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz. Dalam seleksi tersebut, XLSMART menempati peringkat pertama pada pita 700 MHz, sedangkan Telkomsel menjadi peringkat pertama pada pita 2,6 GHz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: