Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Menguat Rp18.091 per USD Usai S&P Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5%

        Rupiah Ditutup Menguat Rp18.091 per USD Usai S&P Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Garuda terparkir di Rp18.091 atau menguat tipis 19 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.109 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar masih merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5% setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

        "Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil," ungkap dia kepada wartawan.

        S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BB Bberkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.

        Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor. 

        Baca Juga: Purbaya Sebut Keputusan S&P Patahkan Spekulasi Penurunan Rating Indonesia

        Baca Juga: S&P Tak Turunkan Peringkat Indonesia, Purbaya: Menuju Indonesia Emas

        Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6% pada kuartal I/2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I/2026. Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar.  Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar 7% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama.

        Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: