Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kenyang Hinaan di Negeri Sendiri, Prabowo Justru Ramai-Ramai Didatangi Pemimpin Dunia

        Kenyang Hinaan di Negeri Sendiri, Prabowo Justru Ramai-Ramai Didatangi Pemimpin Dunia Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Di tengah berbagai kritik yang masih menghampiri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di dalam negeri, pemerintah justru menyoroti meningkatnya perhatian dari para pemimpin dunia terhadap Indonesia. 

        Intensitas kunjungan sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan ke Tanah Air disebut menjadi sinyal kuat bahwa posisi Indonesia di mata internasional semakin diperhitungkan.

        Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI M Qodari menilai kunjungan para pemimpin dunia tersebut bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Menurutnya, pertemuan-pertemuan itu mencerminkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki stabilitas politik dan ketahanan ekonomi.

        "Intensitas pertemuan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia sebagai mitra strategis, baik di tingkat kawasan maupun global," kata Qodari dalam keterangan Bakom baru-baru ini.

        Qodari menjelaskan, para pemimpin yang datang berasal dari kawasan berbeda. Hal itu dinilai menunjukkan konsistensi Indonesia dalam membangun jejaring persahabatan sekaligus memperluas kerja sama dengan berbagai negara tanpa memandang blok tertentu.

        Baca Juga: Pantas Mau Dibubarkan Prabowo? Saksi Sidang Blueray Cargo Sebut Bea Cukai Minta Duit Terus

        Pemimpin pertama yang menemui Prabowo adalah Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko pada 2 Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas peluang kerja sama di sektor industri, alat berat, teknologi, hingga penguatan hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia.

        Tak hanya itu, Indonesia dan Belarus juga meluncurkan Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030 sebagai kerangka bersama untuk memperkuat kolaborasi yang lebih konkret selama lima tahun ke depan.

        Beberapa hari kemudian, tepatnya 6 Juli 2026, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong bertemu dengan Prabowo. Dari pertemuan itu, kedua negara menyepakati 26 kerja sama di berbagai sektor, mulai dari pengembangan ekonomi kawasan, energi bersih, hingga ekonomi digital.

        Sehari setelahnya, Prabowo juga menerima kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi. Selain mempererat hubungan ekonomi, kedua negara sepakat memperluas kerja sama di bidang pendidikan, penguatan kelembagaan, hubungan antarmasyarakat, hingga kebudayaan.

        Qodari menegaskan setiap pertemuan Presiden Prabowo dengan para pemimpin dunia diarahkan untuk menghasilkan kerja sama yang nyata, saling menguntungkan, dan memiliki nilai strategis bagi kedua negara.

        Baca Juga: Parah! LPSK Sebut Sony Sanjaya Ogah Kembalikan Duit Haram Korupsi MBG

        Melalui diversifikasi kemitraan internasional tersebut, Indonesia dinilai dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional menghadapi gejolak global, memperluas pasar ekspor, membuka peluang investasi baru, sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia di berbagai forum internasional.

        Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Qodari pun mengatakan Indonesia memilih memperluas kolaborasi dibanding membatasi hubungan dengan negara lain.

        "Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan Presiden Prabowo Subianto bahwa bagi Indonesia, 1.000 teman masih terlalu sedikit, sedangkan satu lawan sudah terlalu banyak," tambah Qodari.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: