Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mantan Lawyer Roy Suryo Ahmad Khozinudin Sentil Orang yang di Depan Layar Berlagak Pahlawan, di Belakang Cari Aman Sendiri

        Mantan Lawyer Roy Suryo Ahmad Khozinudin Sentil Orang yang di Depan Layar Berlagak Pahlawan, di Belakang Cari Aman Sendiri Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Praktisi hukum sekaligus mantan pengacara Roy Suryo, Ahmad Khozinudin, memberikan kritik menohok menyoroti fenomena oknum yang kerap menampilkan citra pahlawan di depan masyarakat, namun diam-diam mencari jalan aman sendiri di balik layar demi menghindari risiko perjuangan.

        Melalui sebuah perumpamaan perang, Khozinudin menggambarkan adanya sosok "martir" yang di depan publik selalu mengobarkan perlawanan sengit dan menyeru serangan umum.

        Namun, ketika pertempuran telah memasuki babak yang paling krusial—di mana pilihan menang atau kalah sudah di depan mata—sang tokoh justru mulai panik dan didera rasa takut.

        "Dihadapan rakyat tetap ingin berwajah pejuang. Di belakang layar cari aman sendiri dan mengkhianati perjuangan," ujar Ahmad Khozinudin dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).

        Khozinudin menjabarkan skenario di mana sosok yang dianggap pejuang tersebut diam-diam mendekati pihak lawan pada malam hari melalui bantuan seorang mediator.

        Ironisnya, sang mediator sering kali merupakan penyusup yang mencari keuntungan bisnis dari proyek yang diberikan oleh pihak musuh.

        Alih-alih menuntaskan pembuktian kebenaran, kedua belah pihak akhirnya menyepakati jalan damai atau gencatan senjata melalui skenario "perang kecil."

        Langkah ini diambil agar sang martir selamat dari risiko kekalahan tanpa perlu kehilangan wajah di depan para pendukungnya.

        Di sisi lain, pihak lawan juga menerima kesepakatan tersebut karena sebenarnya menyimpan ketakutan tersembunyi terhadap "senjata utama" yang berpotensi meluluhlantakkan barisan mereka dalam perang besar.

        Lebih lanjut, Khozinudin menilai bahwa polemik dan pertarungan di era modern kini sudah bergeser dari esensi nilai moral menjadi sebuah melodrama yang berkepanjangan.

        "Hidup tak lagi hitam putih. Perjuangan bukan lagi pertarungan antara Al Haq (kebenaran) dan Al Batil (kebatilan). Melainkan, sudah menjadi drama Korea (Drakor) atau drama China (Dracin) yang episodenya panjang, menguras energi, tapi tak memiliki arti dan tak ada substansi," tegasnya.

        Dampak dari fenomena ini adalah perjuangan panjang yang melelahkan pada akhirnya hanya kembali ke titik nol tanpa ada penyelesaian polemik yang jelas.

        Khozinudin menyayangkan energi masyarakat yang tulus mendukung pergerakan sering kali hanya dianggap angin lalu dan sekadar menjadi pemandu sorak (cheerleaders) demi menyemarakkan tayangan drama tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: