Connected Factory Dinilai Jadi Kunci Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia
Kredit Foto: PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA)
Transformasi menuju Connected Factory dinilai menjadi salah satu strategi penting bagi industri manufaktur Indonesia untuk meningkatkan daya saing di tengah persaingan global. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan otomatisasi, tetapi mengintegrasikan manusia, proses, teknologi, dan data agar perusahaan mampu mengambil keputusan bisnis secara lebih cepat dan efisien.
Di tengah fluktuasi permintaan, gangguan rantai pasok global, serta percepatan digitalisasi industri, pelaku manufaktur dituntut meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga kualitas produksi agar tetap kompetitif.
Channel Sales Director Southeast Asia Epicor, Adhi Firmansyah, mengatakan transformasi digital di sektor manufaktur tidak cukup hanya melalui investasi teknologi. Perusahaan juga harus membangun proses bisnis yang saling terhubung sehingga data operasional dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Transformasi digital bukan sekadar mengadopsi teknologi baru. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu menghubungkan people, process, dan data sehingga informasi dari lantai produksi menjadi data yang bermakna, mudah diakses, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan bisnis secara cepat,” ujar Adhi, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, tantangan manufaktur saat ini tidak lagi hanya datang dari kompetitor domestik, tetapi juga produsen global yang mampu memproduksi barang dengan biaya lebih rendah, kualitas yang konsisten, dan waktu produksi lebih singkat.
Karena itu, perusahaan membutuhkan visibilitas menyeluruh terhadap aktivitas produksi melalui sistem yang mampu menghubungkan data dari berbagai proses dalam satu ekosistem. Dengan informasi yang tersedia secara real-time, perusahaan dapat merespons perubahan pasar maupun gangguan operasional secara lebih cepat.
Namun, Adhi menilai transformasi digital tidak akan berhasil tanpa kesiapan sumber daya manusia. Seiring meningkatnya pemanfaatan otomatisasi, analitik data, dan sistem digital, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
“Karyawan perlu mampu bekerja lebih cepat, menyelesaikan masalah secara efektif, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Karena itu, pengembangan kompetensi harus berjalan beriringan dengan transformasi teknologi,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan industri saat ini bukan hanya memperoleh talenta digital baru, tetapi juga meningkatkan kompetensi karyawan yang sudah ada. Pasalnya, sektor manufaktur kini harus bersaing dengan industri perbankan, layanan kesehatan, hingga perusahaan teknologi dalam memperebutkan tenaga kerja dengan keahlian digital.
Oleh sebab itu, pelatihan dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan dinilai menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan rekrutmen.
Selain pengembangan SDM internal, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga menjadi salah satu upaya menyiapkan talenta industri. Epicor, misalnya, menjalin kerja sama dengan President University untuk mengenalkan teknologi manufaktur, proses bisnis digital, serta kebutuhan industri kepada mahasiswa.
Di tingkat operasional, Epicor juga mendorong penerapan konsep Connected Worker, yakni pendekatan yang mengintegrasikan panduan kerja digital ke dalam aktivitas produksi sehari-hari.
Melalui sistem tersebut, pekerja memperoleh instruksi kerja yang terstandarisasi, informasi operasional, hingga panduan penyelesaian masalah secara langsung. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat adaptasi karyawan baru, menjaga konsistensi kualitas produksi, mengurangi kesalahan operasional, serta mempercepat penanganan gangguan di lapangan.
“Standarisasi proses menjadi sangat penting karena pergantian karyawan seharusnya tidak memengaruhi kualitas produk. Dengan panduan kerja yang konsisten dan didukung teknologi, perusahaan dapat menjaga kualitas sekaligus mengurangi biaya produksi akibat kesalahan operasional,” ujar Adhi.
Baca Juga: Transformasi Digital Dorong Daya Saing Brand Lokal di Tengah Tantangan Ekonomi
Baca Juga: Genjot Daya Saing, Kemenperin Dorong Transformasi Digital Industri Farmasi
Baca Juga: Airlangga 'Lobi' Dua Raksasa Teknologi China Perkuat Kerja Sama Ekonomi Digital
Berdasarkan pengalaman Epicor mendampingi berbagai perusahaan manufaktur, penerapan proses kerja yang terintegrasi dan pemanfaatan data secara optimal berpotensi meningkatkan produktivitas operasional sekitar 20% hingga 30%, bergantung pada tingkat kematangan digital masing-masing perusahaan.
Meski demikian, Adhi menegaskan pembangunan Connected Factory merupakan proses jangka panjang. Perusahaan perlu terlebih dahulu mengidentifikasi proses bisnis yang paling kritis sebelum menentukan investasi teknologi agar transformasi berjalan lebih efektif.
“Bukan berarti semua proses harus langsung diubah. Yang paling penting adalah memahami di mana tantangan terbesar perusahaan berada, apakah pada proses, teknologi, atau sumber daya manusianya. Dari situ perusahaan dapat menentukan strategi perbaikan yang paling tepat,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: