Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Timah Tbk (TINS) menilai pengembangan hilirisasi timah nasional masih menghadapi tantangan dari sisi daya saing, terutama akibat perbedaan perlakuan fiskal antara produk dalam negeri dan produk impor yang masuk melalui kawasan berikat.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, mengatakan industri pengguna timah sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Namun, produk domestik masih harus bersaing dengan produk impor yang mendapatkan fasilitas pembebasan pajak.
Menurut Harry, salah satu pengguna utama produk turunan timah adalah industri tin plate atau pelat timah yang digunakan untuk kebutuhan kemasan kaleng. Saat industri tersebut berada di kawasan industri khusus atau kawasan berikat, mereka dapat memperoleh kemudahan fiskal ketika mengimpor bahan baku dari negara lain seperti Malaysia dan Tiongkok.
“Produsen-produsen pengguna timah seperti yang di kaleng itu, atau istilahnya tin plate, ketika mereka membuat pabrik di kawasan industri khusus, kawasan berikat, ketika mereka impor dari Malaysia, dari Cina itu bebas pajak,” kata Harry dalam diskusi yang diselenggarakan oleh CORE di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Sementara itu, produk timah yang diproduksi di Indonesia masih memiliki sejumlah kewajiban fiskal. Menurut Harry, PT Timah tetap harus membayar royalti, pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penghasilan (PPh), serta kewajiban lainnya.
“Kita di Indonesia, timah ini membayar royaltinya, bayar PPN, PPh dan lain-lain seperti itu. Jadi secara kompetitif harga kita juga sangat berat bertanding dengan produk impor yang masuk ke kawasan berikat seperti itu,” ujarnya.
Padahal, Harry menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan industri pengguna timah. Selain memiliki cadangan dan posisi sebagai salah satu pemasok utama timah dunia, Indonesia juga memiliki pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa.
Menurutnya, produsen global sebenarnya melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi juga sebagai pasar potensial.
“Kita adalah market terbesar. Kita 250 juta penduduk, tentunya demand terhadap elektronik besar. Kita juga sebenarnya suplai timah terbesar untuk global. Kalau kita punya market terbesar dan kita punya suplai timahnya, kenapa tidak industrinya dibangun di Indonesia,” kata Harry.
Menurut Harry, potensi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menarik produsen elektronik, kendaraan listrik, dan industri pengguna timah lainnya agar membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Tuntutan Hilirisasi Meningkat, Namun Demand Domestik Masih Terbatas
Di sisi lain, pemerintah juga terus meningkatkan tuntutan hilirisasi agar timah tidak hanya berhenti pada produk ingot atau balok timah, tetapi dilanjutkan menjadi produk turunan seperti tin solder dan tin chemical dan lain sebagainya.
Harry menjelaskan, dari sisi proses produksi PT Timah sebenarnya sudah berada pada tahap hilir. Ingot yang dihasilkan perusahaan merupakan produk hasil pengolahan dan pemurnian bijih timah melalui fasilitas smelter, bukan lagi produk mentah.
“Hilirisasi timah ini kalau di PT Timah, seperti yang tadi sudah disampaikan, bisa dikatakan sudah hampir di ujung, bahkan mungkin sudah di ujung dari industri timah itu sendiri,” ujarnya.
Melalui anak usahanya, PT Timah Industri di Cilegon, perusahaan juga telah mengembangkan produk turunan timah hingga menjadi produk siap pakai seperti tin solder dan tin chemical.
Baca Juga: AI hingga Data Center Bikin Prospek Timah Makin Cerah, TINS Bidik Momentum Semester II
Baca Juga: Pernah 'Sikat' Kasus BTS dan Timah, Ini Sosok Kuntadi Calon Pengganti Febrie Adriansyah
Meski demikian, pengembangan produk hilir masih terbatas. Harry menyebut hanya sekitar 5 persen dari total produksi timah yang saat ini diproses lebih lanjut menjadi produk turunan.
“Dari total 100 persen produksi timah kita, hanya 5 persen yang kita proses lebih lanjut di hilirisasi menjadi tin chemical, tin solder seperti itu. Kenapa itu hanya 5 persen? Karena industrinya sendiri belum berkembang di Indonesia. Artinya, demand-nya belum tumbuh,” ungkapnya.
Harry menambahkan, dari produk turunan yang telah dihasilkan tersebut, hanya sekitar 10 persen yang diserap pasar domestik. Sementara sisanya masih harus dipasarkan ke luar negeri, salah satunya India.
Karena itu, menurut Harry, pekerjaan rumah hilirisasi timah bukan hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang mampu menyerap produk turunan tersebut.
“PR-nya adalah bagaimana kita bisa menggandeng produsen-produsen Jepang, Cina, Korea itu bisa memindahkan produksinya mereka di Indonesia. Itu yang menjadi PR ke depan,” tutup Harry.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: