Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kebutuhan Listrik Naik, PLN Andalkan LNG sebagai Penopang Keandalan Sistem Energi Nasional

        Kebutuhan Listrik Naik, PLN Andalkan LNG sebagai Penopang Keandalan Sistem Energi Nasional Kredit Foto: PLN Epi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan listrik nasional memperkuat peran Liquefied Natural Gas (LNG) sebagai energi penopang ketahanan sistem kelistrikan Indonesia. LNG dinilai menjadi energi transisi yang mampu menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan.

        Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, mengatakan kebutuhan listrik Indonesia terus meningkat seiring ekspansi industri, elektrifikasi transportasi, pertumbuhan kawasan ekonomi baru, serta meningkatnya kebutuhan pusat data.

        "Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional," ujar Rakhmad saat menyampaikan paparannya dalam Acara The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Intercontinental Resort Jimbaran, Bali, dikutip Senin, (3/8/2026).

        Menurut Rakhmad, kebutuhan energi primer nasional diproyeksikan meningkat sekitar 2 persen per tahun, sedangkan permintaan listrik tumbuh lebih tinggi sekitar 4,6–5,4 persen per tahun. Kondisi tersebut membutuhkan pasokan gas dan LNG yang semakin andal untuk menjaga fleksibilitas sistem tenaga listrik.

        Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 304,4 TWh menjadi 584,3 TWh. Pada periode tersebut, porsi pembangkit berbasis batu bara diproyeksikan turun menjadi sekitar 47 persen, sementara kontribusi energi baru terbarukan meningkat hingga 33 persen.

        PLN memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik nasional tumbuh rata-rata 4,5 persen per tahun, dari 1.748 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan tersebut, porsi LNG dalam pasokan gas PLN diperkirakan naik dari 57 persen menjadi 67 persen.

        "LNG tetap menjadi energi penyeimbang (balancing fuel) yang mampu menjaga keandalan sistem ketika pembangkit berbasis surya maupun angin mengalami fluktuasi," kata Rakhmad.

        Untuk memastikan ketersediaan pasokan energi primer, PLN EPI memperkuat kontrak gas dan LNG jangka panjang bersama West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD serta kontrak LNG lebih dari 49 juta ton.

        Baca Juga: Buka Lapangan Kerja bagi Masyarakat, Job Fair PLN Libatkan 39 Perusahaan

        Baca Juga: PLN Siap Serap Listrik PLTSa Legok Nangka 20 Tahun

        Selain pengamanan pasokan, PLN juga mempercepat pembangunan infrastruktur LNG nasional melalui pengembangan FSRU di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon, pembangunan klaster gasifikasi di Indonesia Timur, serta peningkatan kapasitas penyimpanan LNG nasional menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD.

        "Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan," ujar Rakhmad.

        Melalui penguatan kontrak pasokan jangka panjang, pembangunan infrastruktur LNG, dan diversifikasi rantai pasok energi primer, PLN terus membangun sistem energi yang tangguh, fleksibel, dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional serta pencapaian target Net Zero Emissions Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: