Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        UGM Akui Skripsi Jokowi Didigitalkan Lebih Dulu dari Alumni Lain karena Alasan Ini

        UGM Akui Skripsi Jokowi Didigitalkan Lebih Dulu dari Alumni Lain karena Alasan Ini Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan alasan skripsi Presiden Joko Widodo telah tersedia dalam bentuk digital, sementara skripsi milik rekan-rekan seangkatannya belum dapat diakses secara daring. Penjelasan tersebut disampaikan dalam klarifikasi yang tayang di akun YouTube UGM pada 22 Agustus 2025.

        Dalam klarifikasi itu, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, mengakui bahwa skripsi Joko Widodo memang didigitalkan lebih dahulu dibandingkan skripsi lulusan lain pada angkatan yang sama. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kebanggaan institusi karena salah satu alumninya menjadi Presiden Republik Indonesia.

        Sigit menjelaskan bahwa proses digitalisasi skripsi di UGM pada dasarnya dilakukan secara bertahap dan berurutan, dimulai dari angkatan yang lebih baru karena dokumennya telah tersedia dalam bentuk digital atau soft file.

        Namun, untuk skripsi Joko Widodo, proses tersebut dilakukan lebih awal. Ia mengatakan keputusan itu diambil ketika Joko Widodo menjabat sebagai presiden dan dijadwalkan mengunjungi Fakultas Kehutanan UGM.

        "Kita sebagai sebuah institusi pendidikan yang kebetulan alumninya itu menjadi orang nomor satu di Indonesia tentu punya rasa kebanggaan," kata Sigit.

        Ia menambahkan, pihak fakultas kemudian mengunggah skripsi Joko Widodo ke Electronic Theses and Dissertations (ETD) sebagai wujud kebanggaan tersebut.

        "Nah, pada saat Pak Jokowi menjadi presiden dan kebetulan mau berkunjung ke fakultas waktu itu, kami mewujudkan kebanggaan itu dengan cara meng-upload skripsinya Pak Jokowi itu di ETD. Jadi itu betul-betul merupakan wujud kebanggaan," ujarnya.

        Sigit juga mengungkapkan bahwa pada saat isu dugaan ijazah palsu mencuat pada April, proses digitalisasi skripsi di Fakultas Kehutanan UGM secara normal baru mencapai alumni angkatan 1990. Sementara itu, Joko Widodo merupakan mahasiswa angkatan 1980 yang lulus pada 1985.

        Ia mengakui bahwa digitalisasi skripsi Joko Widodo memang dilakukan di luar urutan normal.

        "Baru pada sampai tahun 1990 pas angkatan saya... nah sementara skripsinya Pak Joko Widodo itu duluan khusus ya, karena memang alasannya yang saya sampaikan," katanya.

        Baca Juga: dr. Tifa Terus Mendesak, UGM Tak Akan Bantu Siapa Pun dalam Kasus Ijazah Jokowi

        Menurut Sigit, pihak fakultas tidak memperkirakan bahwa keputusan tersebut kemudian menjadi sorotan publik.

        "Kami tidak pernah berpikir bahwa ini nanti akan digoreng ke sana kemari begitu," ujarnya.

        Penjelasan UGM tersebut muncul di tengah perhatian publik terhadap riwayat akademik Presiden Joko Widodo. Dalam klarifikasinya, pihak fakultas menegaskan bahwa percepatan digitalisasi skripsi dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap alumninya yang menjadi kepala negara, meski proses tersebut berbeda dari mekanisme digitalisasi skripsi yang diterapkan kepada alumni lainnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: