Airlangga Genjot Data Center, AI, dan Semikonduktor demi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
Kredit Foto: Kemenko
Pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi digital dengan menjadikan pusat data (data center), kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), semikonduktor, dan talenta digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Langkah tersebut diproyeksikan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah percepatan transformasi digital global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penguatan ekonomi digital menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas rata-rata global, inflasi yang terkendali di level 2,88%, serta peningkatan investasi yang terus menciptakan lapangan kerja.
"Ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh berbagai indikator makro yang tetap terjaga, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata global, inflasi yang terkendali pada level 2,88%, serta terus meningkatnya investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja," ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, pemerintah menilai diperlukan mesin pertumbuhan baru yang mampu meningkatkan produktivitas nasional. Karena itu, pengembangan data center, AI, industri semikonduktor, dan talenta digital dilakukan secara terintegrasi sebagai satu ekosistem investasi digital.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong investasi melalui berbagai instrumen, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Data Center dan Energi Jadi Fondasi
Airlangga mengatakan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan industri data center, antara lain ketersediaan lahan, pasokan energi, sumber air, serta konektivitas digital yang terus diperluas melalui jaringan serat optik dan satelit.
Namun, menurutnya, pengembangan infrastruktur digital tidak dapat dipisahkan dari ketahanan energi. Pasokan energi yang memadai menjadi prasyarat utama bagi pengembangan data center, AI, hingga quantum computing.
Pemerintah Siapkan Talenta Digital dan Industri Semikonduktor
Selain memperkuat infrastruktur, pemerintah juga mempercepat pengembangan sumber daya manusia digital melalui kerja sama internasional.
Salah satunya dilakukan melalui kolaborasi dengan Arm yang ditargetkan mampu mencetak 15.000 insinyur dalam tiga tahun mendatang. Pemerintah juga menyiapkan kerja sama dengan Indian Institute of Technology untuk memperkuat kapasitas talenta digital di Indonesia.
Di sisi industri, pemerintah menempatkan semikonduktor sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi digital nasional. Integrasi antara data center, komputasi AI, industri semikonduktor, dan talenta digital diharapkan membentuk rantai nilai baru yang mampu meningkatkan investasi dan daya saing industri dalam negeri.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan transformasi digital kini telah menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional.
"Yang sedang dibangun pemerintah bukan hanya ekonomi digital, tetapi ekosistem investasi digital. Ketika pusat data berkembang, kebutuhan komputasi AI akan meningkat, industri semikonduktor ikut tumbuh, dan pada saat yang sama tercipta permintaan terhadap talenta digital nasional," ujar Haryo.
Perkuat Posisi Indonesia di Ekonomi Digital Global
Di tingkat regional, Indonesia juga memperkuat perannya dalam penyusunan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kesepakatan tersebut ditargetkan menjadi perjanjian ekonomi digital multilateral pertama di dunia dan berpotensi mendorong nilai ekonomi digital ASEAN mencapai US$2 triliun pada 2030.
Selain itu, Indonesia telah bergabung sebagai negara pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) untuk memperkuat keterlibatan dalam penyusunan tata kelola AI global sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi.
Airlangga menegaskan percepatan pembangunan ekosistem digital harus dilakukan dalam beberapa tahun ke depan agar Indonesia tidak kehilangan momentum transformasi teknologi.
"Ini adalah the golden moment. Dan saya juga ingatkan golden moment ini tidak lama. Kita harus kejar dalam tiga sampai empat tahun ke depan, karena inilah kesempatan bagi Indonesia," tegasnya.
Menurut Airlangga, penguatan energi dan infrastruktur digital akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian, mulai dari mendorong digitalisasi dan manufaktur, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, hingga memperkuat keamanan siber.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri