Kredit Foto: Reuters/KCNA
Rusia disebut mendapat tambahan dukungan militer dari Korea Utara di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah timur Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Pyongyang bersiap mengerahkan hingga 50.000 personel ke Rusia untuk mendukung operasi militer Moskow.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky melalui unggahan media sosial pada Minggu, 9 Agustus 2026. Menurut dia, jumlah pasukan yang diperkirakan akan dikerahkan Korea Utara meningkat dibandingkan perkiraan sebelumnya pada Juli yang berada di kisaran 30.000 personel.
"Keputusan telah dibuat untuk mengerahkan 30 ribu hingga 50 ribu warga Korea Utara di wilayah Rusia," kata Zelensky.
Selain pengerahan pasukan, intelijen Ukraina mendeteksi kedatangan unit rudal Korea Utara di wilayah Rusia bagian barat. Unit tersebut disebut dilengkapi 120 rudal balistik dan enam peluncur.
Kyiv juga mengklaim telah mendeteksi sejumlah rudal buatan Korea Utara di wilayah Ukraina. Zelensky menilai keterlibatan militer tersebut dapat menjadi sarana bagi Pyongyang untuk memperluas pengalaman dalam perang modern sekaligus memperoleh peralatan militer dari Rusia.
"Sangat jelas bahwa Korea Utara akan terus membangun pengalamannya dalam perang modern, mendapatkan lisensi dari Rusia, dan menerima berbagai macam peralatan militer dari mereka," ujar Zelensky.
Menghadapi meningkatnya ancaman serangan udara, pemerintah Ukraina juga mendesak Korea Selatan untuk memasok sistem pertahanan udara. Kyiv menyatakan terbuka terhadap kerja sama teknologi militer untuk memperkuat kemampuan pertahanan wilayahnya.
"Kami siap bekerja sama dalam Drone Deal dan bidang-bidang lainnya," kata Zelensky.
Sementara itu, pertempuran di sejumlah wilayah Ukraina dilaporkan semakin intensif. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menguasai dua desa di wilayah Donetsk, yakni Vasyutinske dan Toretske.
Rusia juga menyatakan serangannya menimbulkan kerugian besar terhadap infrastruktur logistik militer Ukraina.
Klaim tersebut berbanding dengan laporan dari pihak Ukraina. Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan pasukannya telah menimbulkan ribuan korban di pihak Rusia dalam periode 24 jam terakhir.
Di tengah eskalasi tersebut, serangan udara Rusia dilaporkan merusak infrastruktur energi di Pavlohrad. Serangan juga disebut menghancurkan sebuah gudang perlengkapan medis milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Dnipro.
Baca Juga: Hadapi Gelombang Panas, Kim Jong Un Anjurkan Warga Korea Utara Makan Menu Tradisional Sup Anjing
Untuk memperkuat kemampuan pertahanan, Ukraina juga berencana membeli paket persenjataan dari Turki. Paket tersebut mencakup 70 rudal balistik jarak pendek ATACMS, 12 sistem peluncur roket M270, serta puluhan ribu amunisi artileri.
Rencana pembelian tersebut disebut akan dilakukan setelah Ukraina memperoleh persetujuan izin dari Amerika Serikat. Langkah itu menjadi bagian dari upaya Kyiv menambah kemampuan persenjataan di tengah meningkatnya intensitas serangan dan keterbatasan armada pertahanan.
Berbagai klaim mengenai pengerahan pasukan, penguasaan wilayah, serta jumlah korban dalam perang Rusia-Ukraina tersebut disampaikan oleh masing-masing pihak dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: