Lama Tak Bisa Pulang, Tentara AS Dikabarkan 'Stres' dan Bentrok di Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Kredit Foto: Seaforces
Ketegangan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan berujung bentrokan yang menewaskan tujuh tentara Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan melukai sejumlah lainnya. Insiden tersebut terjadi ketika kapal tengah menjalani pengerahan panjang di Samudra Hindia di tengah meningkatnya tekanan terhadap para awak.
Laporan Tasnim News Agency pada 12 Agustus 2026 menyebut bentrokan dipicu keresahan awak kapal yang telah berbulan-bulan menjalani penugasan tanpa kepastian kapan dapat kembali ke daratan. USS Abraham Lincoln disebut telah menjalani pengerahan selama 263 hari, termasuk 208 hari berturut-turut di laut tanpa kunjungan pelabuhan yang memadai.
Kapal tersebut dikerahkan untuk mendukung operasi militer AS yang berkaitan dengan ketegangan dengan Iran. Lamanya masa tugas kemudian memicu keluhan dari awak kapal maupun keluarga mereka.
Situasi semakin memanas ketika Brad Cooper, penasihat Komando Pusat AS (CENTCOM), naik ke kapal untuk merespons keluhan awak. Kedatangannya disebut mendapat cemoohan dan lemparan botol air sebelum situasi berkembang menjadi bentrokan fisik yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya.
Di balik bentrokan tersebut, muncul gambaran mengenai tekanan yang dialami sekitar 5.000 personel yang berada di USS Abraham Lincoln. Keluhan mencakup kelelahan ekstrem, memburuknya kondisi kesehatan mental, hingga persoalan pasokan makanan dan kebutuhan dasar.
Keluarga awak kapal bahkan mengungkap sejumlah kejadian yang menggambarkan beratnya tekanan tersebut.
Annabelle Loma, istri seorang pelaut, mengatakan suaminya pernah mencoba melompat dari kapal karena kelelahan. Sang suami disebut juga khawatir akan mendapat pemecatan tidak terhormat yang dapat mengakhiri kariernya setelah 13 tahun berdinas.
Sementara itu, Maria Rodriguez, istri pelaut lainnya, menceritakan suaminya pernah mencegah seorang rekannya melompat ke laut dalam insiden berbeda. Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan tingginya tekanan yang dialami sebagian awak kapal.
Kekhawatiran serupa disampaikan Bonnie York, ibu seorang pelaut. Ia menyebut moral awak kapal berada dalam kondisi buruk dan mengungkap adanya peringatan dari dokter kapal agar USS Abraham Lincoln segera berlabuh untuk mencegah persoalan kesehatan mental yang lebih serius.
Juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut AS, Komandan Joseph Hontz, mengakui pengerahan panjang tersebut menghadirkan sejumlah tantangan. Namun, ia mengatakan awak tetap memiliki akses terhadap fasilitas kebugaran, layanan kesehatan mental, serta komunikasi dengan keluarga ketika kondisi memungkinkan.
Hontz juga membantah laporan mengenai adanya lubang pada kapal. Ia mengakui terkadang terdapat kekurangan persediaan makanan dan persoalan air, tetapi menyebut masalah tersebut segera ditangani.
Di tengah kondisi tersebut, USS Theodore Roosevelt tengah disiapkan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Namun, jadwal pasti pergantian belum diumumkan dengan alasan keamanan operasi.
Kekhawatiran keluarga awak juga mencuat dalam pertemuan di San Diego yang dihadiri lebih dari 200 keluarga pelaut. Mereka mempertanyakan kondisi kapal, ketersediaan kebutuhan pokok, kelelahan awak, hingga memburuknya kesehatan mental akibat pengerahan yang berkepanjangan.
Wakil Laksamana Joseph Cahill, komandan Naval Surface Forces, mengakui bahwa situasi tersebut tidak hanya berdampak pada personel militer, tetapi juga keluarga mereka serta kemampuan Angkatan Laut AS mempertahankan kesiapan pasukan dalam jangka panjang.
Insiden di USS Abraham Lincoln pun memperlihatkan konsekuensi lain dari pengerahan militer yang berlangsung terlalu lama. Tekanan tidak hanya muncul di medan operasi, tetapi juga di dalam kapal dan lingkungan keluarga para personel yang menunggu kepulangan mereka.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: