Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menlu Iran Murka ke Prancis soal Hukuman Mati: Jangan Ceramahi Kami soal HAM

        Menlu Iran Murka ke Prancis soal Hukuman Mati: Jangan Ceramahi Kami soal HAM Kredit Foto: Reuters/Morteza Nikoubazl
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam Prancis dan sejumlah negara yang menyoroti penggunaan hukuman mati di Iran. Araghchi menilai negara-negara tersebut tidak pantas memberi ceramah soal hak asasi manusia (HAM).

        Pernyataan itu disampaikan setelah Prancis bersama 31 negara lainnya mengecam eksekusi mati terhadap para demonstran di Iran. Iran menilai kritik tersebut tidak lepas dari sikap negara-negara Barat terhadap Israel dan Amerika Serikat.

        "Negara-negara seperti Prancis harus berhenti memberi ceramah kepada dunia tentang 'hak asasi manusia' dan hukum internasional. Kemunafikan ini sangat mencolok dan memalukan," cetus Araghchi dalam unggahan di media sosial X, dilansir Press TV, Kamis (13/8/2026).

        Araghchi kemudian menyinggung dukungan sejumlah negara Barat terhadap Israel. Ia juga mengaitkannya dengan konflik Israel di Gaza serta agresi Amerika Serikat terhadap Iran.

        "Dukungan Anda terhadap genosida Israel di Gaza -- dan agresi terhadap Iran -- telah menghancurkan landasan moral apapun yang Anda kira Anda punya," imbuhnya.

        Sebelumnya, Prancis bersama puluhan negara mengeluarkan pernyataan bersama terkait hukuman mati di Iran. Mereka menilai eksekusi terhadap demonstran digunakan untuk membungkam kritik terhadap pemerintah.

        "Penggunaan hukuman mati untuk membungkam perbedaan pendapat, mengintimidasi masyarakat, dan menghukum individu yang menjalankan hak asasi manusianya, tidak pernah dapat dibenarkan," demikian pernyataan bersama tersebut, dilansir AFP, Kamis (13/8/2026).

        Negara-negara tersebut juga menyerukan agar masyarakat Iran dapat menggunakan hak kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai. Mereka meminta agar warga tidak menghadapi ancaman karena menjalankan hak tersebut.

        "Rakyat Iran harus bebas untuk menjalankan hak mereka atas kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai tanpa rasa takut," imbuh pernyataan tersebut.

        Pernyataan awalnya ditandatangani oleh 26 negara. Kementerian Luar Negeri Prancis kemudian menyebut jumlah penandatangan bertambah menjadi 32 negara.

        Baca Juga: Turki Tuduh Israel Sebar Hoaks soal Iran Ingin Bunuh Trump di Air Force One

        Australia, Selandia Baru, Irlandia, Italia, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya turut bergabung. Mereka mendesak Iran segera menghentikan penggunaan hukuman mati serta membebaskan orang-orang yang ditahan secara sewenang-wenang.

        Pemerintah Iran menolak keras tekanan tersebut. Araghchi justru mempertanyakan legitimasi moral negara-negara Barat dalam mengkritik kebijakan HAM Iran di tengah dukungan mereka terhadap Israel.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: