Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Anies Baswedan Tolak Usulan Indonesia Cocoknya Dipimpin Sosok Semiotoriter dan Strongman: 'Jangan Milih-Milih Contoh'

        Anies Baswedan Tolak Usulan Indonesia Cocoknya Dipimpin Sosok Semiotoriter dan Strongman: 'Jangan Milih-Milih Contoh' Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai kepemimpinan yang kuat atau strongman dan sistem pemerintahan semiotoriter bukan menjadi jaminan sebuah negara dapat mencapai kemajuan.

        Anies mengatakan, kemajuan suatu negara tidak cukup hanya mengandalkan sosok pemimpin yang memiliki kekuasaan kuat. Menurutnya, ada sejumlah faktor lain yang lebih menentukan, yakni teknokrasi, meritokrasi, dan transparansi.

        Pernyataan tersebut disampaikan Anies saat menanggapi pandangan yang menyebut Indonesia membutuhkan pemimpin semiotoriter atau sosok strongman agar dapat berkembang.

        Anies mempertanyakan penggunaan sejumlah negara sebagai contoh keberhasilan kepemimpinan kuat. Ia menyebut Myanmar dan Korea Utara sebagai pembanding untuk menunjukkan bahwa pemerintahan otoriter tidak otomatis membuat sebuah negara maju.

        “Saya batin, ini namanya milih contoh. Kenapa contohnya Tiongkok? Kenapa enggak Myanmar, Korut? Keduanya otoriter, enggak maju tuh,” kata Anies.

        Menurut Anies, faktor pertama yang dibutuhkan negara untuk mencapai kemajuan adalah teknokrasi. Ia menjelaskan, kebijakan harus disusun berdasarkan perencanaan dan proses yang tepat.

        “Yang buat maju, pertama teknokrasi. Harus ada perencanaan yang benar, semua disusun berdasarkan proses yang benar,” ujarnya.

        Faktor kedua adalah meritokrasi. Anies menilai pengelolaan negara harus diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.

        “Yang kedua meritokrasi, semua kompeten. Cek aja Tiongkok,” kata Anies.

        Selain teknokrasi dan meritokrasi, Anies menekankan pentingnya transparansi sebagai faktor ketiga. Menurut dia, transparansi diperlukan agar tata kelola pemerintahan dapat berjalan dengan baik.

        “Yang ketiga transparansi. Tiongkok di dalam keras soal transparansi,” ujarnya.

        Anies menegaskan, kepemimpinan yang kuat tanpa ditopang teknokrasi, meritokrasi, dan transparansi justru dapat membawa negara pada kondisi yang tidak diinginkan.

        “Jadi yang buat maju itu ketiga itu. Kalau cuma strongman, semiotoriter tanpa ketiga itu, namanya Korea Utara, Myanmar,” kata Anies.

        Anies dengan demikian menilai perdebatan mengenai model kepemimpinan tidak seharusnya hanya berfokus pada seberapa kuat seorang pemimpin memegang kekuasaan.

        Menurut dia, kualitas perencanaan, kompetensi sumber daya manusia, dan tata kelola yang transparan juga menjadi faktor penting dalam menentukan kemajuan sebuah negara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: