Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PR Bank Indonesia, Eks Menkeu Jokowi Soroti Kondisi Cadangan Devisa Indonesia: Tak Besar-Besar Benar

        PR Bank Indonesia, Eks Menkeu Jokowi Soroti Kondisi Cadangan Devisa Indonesia: Tak Besar-Besar Benar Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Cadangan Devisa Indonesia menjadi salah satu pekerjaan rumah besar bagi Gubernur Bank Indonesia (BI) Baru. Mantan Menteri Keuangan Era Presiden Joko Widodo (Jokowi) Bambang Brodjonegoro  menilai posisi cadangan devisa saat ini belum cukup besar untuk memberikan ruang yang luas bagi bank sentral dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah.

        Bambang mengatakan kondisi tersebut membuat pilihan kebijakan bank sentral menjadi lebih terbatas ketika bank sentral harus menjaga stabilitas nilai tukar.

        Baca Juga: Pernah Kantongi 27 Juta Suara, Ganjar Pranowo Ungkap Peluangnya Kembali Maju Jadi Capres di 2029

        “Gubernur Bank Indonesia ya dalam hal ini, yang cadangan devisanya tidak besar-besar benar, ya, karena sekarang mungkin setara lima setengah bulan kebutuhan impor, maka memang tidak banyak opsi yang bisa dilakukan,” kata Bambang di YouTube Hendri Satrio Official dan dikutip Sabtu (15/8/2026).

        Cadangan devisa memiliki peran penting bagi bank sentral, salah satunya sebagai salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kebutuhan transaksi eksternal negara.

        Dalam situasi rupiah menghadapi tekanan, bank sentral dapat menggunakan sejumlah instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing. Namun, kemampuan melakukan intervensi tentu berkaitan dengan kapasitas cadangan devisa yang tersedia.

        Bambang menilai kondisi cadangan devisa saat ini membuat gubernur bank sentral tidak memiliki terlalu banyak pilihan ketika harus merespons gejolak nilai tukar. Karena itu, menurutnya mereka perlu menggunakan kombinasi kebijakan secara hati-hati, bukan hanya mengandalkan satu instrumen.

        Ia menilai stabilitas rupiah harus tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi. BI artinya tidak hanya dituntut mengendalikan inflasi dan nilai tukar, tetapi juga memperhatikan dampak kebijakan moneter terhadap aktivitas ekonomi.

        Diketahui, Bank Indonesia belum memiliki gubernur definitif menyusul mundurnya sosol dari Perry Warjiyo. Hal tersebut sempat mengguncang kepercayaan pasar dan berujung terhadap pelemahan dari rupiah.

        Namun Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengirimkan satu nama calon gubernur bank sentral kepada DPR. Destry Damayanti dalam surat itu menjadi calon tunggal untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI).

        Destry memiliki perjalanan panjang di sektor keuangan dan kebijakan ekonomi. Ia diketahui menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia. Usai hal itu, ia melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar Master of Science dari Cornell University, Amerika Serikat.

        Kariernya di sektor keuangan juga cukup panjang sebelum masuk lebih jauh ke lingkungan bank sentral. Destry pernah menjabat sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas dan Kepala Ekonom Bank Mandiri. Pengalaman tersebut membuatnya cukup lama berkecimpung dalam analisis ekonomi dan sektor keuangan.

        Baca Juga: Soal Kabinet Bayangan Era Prabowo, Rocky Gerung: Kelihatannya... Bukan Menggantikan, Enggak Tuntas

        Ia juga pernah menduduki posisi sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada periode 2015-2019.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: