Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Tak Percaya AS, Rudal-Drone Digenjot untuk Hadapi Perang Lebih Besar

        Iran Tak Percaya AS, Rudal-Drone Digenjot untuk Hadapi Perang Lebih Besar Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran disebut memanfaatkan masa tenang setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat (AS) pada Juni 2026 untuk memperkuat persiapan menghadapi konflik yang lebih besar. Teheran dalam dua bulan terakhir dilaporkan meningkatkan kemampuan militer dan memperkuat struktur keamanan dalam negeri.

        Menurut laporan The Wall Street Journal, Minggu (16/8/2026), Iran meningkatkan produksi rudal dan drone. Teheran juga memperluas operasi kontraintelijen serta memperbesar pengaruh Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap militer reguler.

        Langkah tersebut dilakukan setelah pimpinan Iran menilai Washington dan Israel hanya memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mengulur waktu. Teheran kemudian bersiap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan dengan skala yang lebih besar.

        Pejabat intelijen Arab juga mengaku menemukan indikasi perubahan strategi di kalangan pimpinan garis keras Iran. Strategi tersebut disebut diarahkan untuk memperluas konflik sekaligus meningkatkan biaya yang harus ditanggung AS.

        Analis pertahanan yang dekat dengan pemerintah Iran, Mohammad Hassan Sangtarash, menyebut sebagian pihak di Iran menilai perang sebenarnya belum dimulai. Konflik yang terjadi sejauh ini dianggap sebagai rangkaian eskalasi sebelum konfrontasi yang lebih besar.

        Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berharap MoU yang ditandatangani pada 17 Juni dapat membantu membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut juga diharapkan mampu meredakan konflik antara Washington dan Teheran.

        Dalam kesepakatan itu, Iran dijanjikan pelonggaran sanksi serta akses terhadap sejumlah dana yang sebelumnya dibekukan. Iran juga disebut berpeluang memperoleh dana rekonstruksi senilai 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.338 triliun.

        Sebagai imbalannya, Iran diharapkan membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran. Teheran juga diminta melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklirnya.

        Namun, situasi kembali memburuk beberapa pekan setelah kesepakatan tersebut. Iran kemudian kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan Selat Hormuz.

        Trump bahkan menyebut para pemimpin Iran sebagai pihak yang sangat berbahaya setelah terjadinya serangan terhadap kapal yang dipandu AS di kawasan tersebut. Ketegangan kemudian kembali meningkat di jalur perairan yang menjadi salah satu rute perdagangan energi terpenting dunia.

        The Wall Street Journal melaporkan Iran menjalankan strategi dua jalur. Di satu sisi, diplomat Iran tetap terlibat dalam pembicaraan dengan AS, sementara di sisi lain Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut memperkuat perangkat keamanan untuk menghadapi kemungkinan perang yang lebih luas.

        IRGC dilaporkan mengirim penasihat ke Irak, Yaman, dan Lebanon. Para penasihat tersebut disebut bertugas berkoordinasi dengan kelompok-kelompok yang menjadi sekutu Teheran di kawasan.

        Komunikasi yang disadap juga disebut menunjukkan adanya pembahasan mengenai kemungkinan peningkatan serangan. Kelompok Houthi di Yaman dan milisi pro-Iran di Irak menjadi bagian dari jaringan yang disorot dalam laporan tersebut.

        IRGC juga disebut menempatkan rudal, senjata laut, dan peluncur drone di wilayah yang menghadap Laut Merah. Penempatan persenjataan tersebut dinilai ikut meningkatkan ketegangan di kawasan.

        Situasi tersebut kemudian berdampak terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk. Serangan rudal dan drone dilaporkan menyasar target di Yordania, Kuwait, Bahrain hingga kapal-kapal Uni Emirat Arab di sekitar Selat Hormuz.

        Di dalam negeri, Mojtaba Khamenei disebut melakukan restrukturisasi terhadap sejumlah institusi keamanan. Beberapa tokoh veteran IRGC dan perang Iran-Irak ditempatkan pada posisi strategis.

        Ahmad Vahidi disebut telah ditunjuk sebagai komandan IRGC. Dia mendapat mandat untuk menjalankan operasi ofensif yang lebih kuat.

        Hossein Taeb juga disebut kembali memimpin Basij. Penunjukan tersebut dikaitkan dengan upaya memperkuat jaringan intelijen internal setelah Iran menghadapi sejumlah infiltrasi yang dituduhkan kepada Israel.

        IRGC juga dilaporkan menyiapkan berbagai pilihan eskalasi baru. Skenario tersebut mencakup serangan pendahuluan, sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia, hingga operasi darat terbatas.

        Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Panjang, Negara Teluk Mulai Pertanyakan Perlindungan Militer Trump

        Iran juga disebut mempertimbangkan upaya memicu ketidakstabilan politik di sejumlah negara Teluk. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Teheran mempersiapkan berbagai opsi apabila konflik kembali meningkat.

        Meski perekonomian dan kemampuan militernya terdampak serangan AS dan Israel, sejumlah pejabat kawasan menilai Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam jalur pelayaran dan infrastruktur energi. Kondisi tersebut membuat negara-negara Teluk bersiap menghadapi kemungkinan konflik yang berlangsung lebih lama.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: