Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Jangan-Jangan Besok Kita Dijajah Pemerintah Sendiri' BEM UI Pertanyakan Makna Kemerdekaan

        'Jangan-Jangan Besok Kita Dijajah Pemerintah Sendiri' BEM UI Pertanyakan Makna Kemerdekaan Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Anandaku Dimas Rumi Chattaristo mempertanyakan makna kemerdekaan yang baru saja diperingati masyarakat Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan bangsa asing.

        Pernyataan tersebut disampaikan Anandaku saat mengikuti aksi mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026) malam. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan seharusnya juga tercermin dari kehidupan masyarakat yang aman, layak, dan terbebas dari berbagai persoalan dasar.

        "Jangan-jangan besok kita dijajah oleh pemerintah kita sendiri," kata Anandaku di sela aksi.

        Anandaku menilai pertanyaan mengenai makna kemerdekaan menjadi relevan ketika masih ada masyarakat yang menghadapi persoalan ekonomi maupun bencana. Ia menyinggung kondisi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa serta masyarakat yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

        Menurutnya, kemerdekaan seharusnya membuat masyarakat dapat menjalani kehidupan yang layak. Hak memperoleh pendidikan, rasa aman, serta kehidupan ekonomi yang baik disebutnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kemerdekaan.

        "Apakah kita sebagai masyarakat Indonesia sudah bisa merasa aman?" ujarnya.

        Anandaku kemudian menyoroti persoalan rasa aman ketika masyarakat berhadapan dengan aparat keamanan. Ia mempertanyakan kemerdekaan yang dirasakan warga jika masih terdapat ketakutan ketika bertemu polisi maupun tentara di jalan.

        Kritik tersebut juga dikaitkan Anandaku dengan sejumlah persoalan yang menurutnya belum menunjukkan penyelesaian maupun perubahan yang diharapkan mahasiswa. Ia menyinggung kasus Affan Kurniawan yang tewas terlindas kendaraan taktis polisi pada Agustus 2025 serta evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

        Menurut Anandaku, mahasiswa akan terus menyampaikan tuntutan selama pemerintah belum menunjukkan perubahan dan perbaikan. Ia menegaskan keberlanjutan gerakan mahasiswa bukan dimaksudkan sebagai tantangan kepada pemerintah, melainkan bentuk sikap untuk terus mengawal persoalan yang dinilai belum selesai.

        "Pernyataan bahwa kita akan terus berjalan itu bukan sebuah tantangan. Itu sebuah penegasan bahwa kami akan terus bergerak ketika mereka tidak melakukan perubahan dan perbaikan," katanya.

        Aksi mahasiswa tersebut juga diwarnai persoalan transportasi. Anandaku mengatakan sejumlah kopaja yang sebelumnya disiapkan untuk mengangkut massa tiba-tiba membatalkan keberangkatan sejak pagi.

        Ia mengaku belum mengetahui penyebab pembatalan tersebut, tetapi menduga ada kemungkinan intimidasi terhadap pengemudi. Namun, Anandaku tidak menyebutkan pihak yang diduga melakukan intimidasi tersebut.

        Baca Juga: BEM UI Demonstrasi Tuntut Negara Jangan Sewenang-wenang Pakai APBN Tapi Rakyat Terus Ditarik Pajak

        "Kami tiba-tiba di-cancel sama kopajanya. Kami juga tidak tahu kenapa," ujarnya.

        Anandaku berharap para pengemudi tidak takut memperjuangkan hak mereka. Ia menilai gerakan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kepentingan kampus, tetapi juga menyangkut hak masyarakat luas, termasuk para sopir angkutan umum.

        Ia juga membuka kemungkinan adanya aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar. Mahasiswa, kata dia, akan tetap turun ke jalan selama belum melihat adanya perbaikan dari pemerintah.

        "Kalau hanya tersisa kaki untuk melangkah, maka itu yang akan kami gunakan," kata Anandaku.

        Meski demikian, Anandaku menolak anggapan bahwa aksi mahasiswa identik dengan kerusuhan. Ia mengajak masyarakat menyampaikan aspirasi secara tertib agar tuntutan mengenai perubahan dapat disampaikan tanpa menimbulkan kerusuhan.

        "Kita pasti ingin menyampaikan suara. Kita pasti ingin menyampaikan perubahan. Kita pasti ingin melakukan perbaikan. Kita tidak ingin rusuh dan akhirnya pulang tanpa hasil," ujarnya.

        Selain persoalan tersebut, Anandaku menyinggung keberadaan personel TNI di sekitar lokasi aksi. Ia mengatakan sempat terjadi dialog antara mahasiswa dan aparat agar personel TNI mundur dari lokasi.

        Keberadaan aparat tersebut kemudian dipertanyakan Anandaku karena ia menilai aksi mahasiswa merupakan bentuk penyampaian aspirasi. "Apakah kita merupakan ancaman sebesar itu bagi bangsa dan negara kita?" kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: