Industri Tekstil RI Mulai Bangkit, Ekspor Tembus US$4,85 Miliar dan Serap 3,8 Juta Tenaga Kerja
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia. Selain menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja, sektor ini juga membukukan nilai ekspor sekitar USD4,85 miliar sepanjang Semester I 2026.
Di tengah tekanan yang masih dirasakan sebagian pelaku usaha, industri TPT mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Investasi baru dan ekspansi sejumlah perusahaan menjadi sinyal bahwa sektor ini masih memiliki peluang untuk tumbuh.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kondisi tersebut perlu diikuti dengan penguatan industri agar pemulihan tidak berhenti pada peningkatan aktivitas produksi semata.
"Industri tekstil dan pakaian jadi memiliki peran yang sangat strategis karena menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja. Meski beberapa perusahaan menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama juga ada investasi baru dan ekspansi usaha," kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, sejumlah kebijakan telah disiapkan untuk membantu industri menghadapi tantangan sekaligus memperkuat daya saing. Dukungan tersebut mencakup insentif investasi, program restrukturisasi, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), pembiayaan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), hingga penguatan kebijakan pengamanan perdagangan.
Transformasi teknologi juga menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari upaya memperkuat industri TPT. Modernisasi mesin, pemanfaatan teknologi produksi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta penerapan prinsip industri hijau dinilai semakin penting ketika persaingan pasar global semakin ketat.
Pasalnya, standar pasar internasional kini tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk. Cara sebuah produk dibuat, termasuk aspek efisiensi dan keberlanjutan proses produksinya, juga semakin diperhatikan.
"Dunia saat ini tidak hanya membeli produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk tersebut diproduksi. Maka perlu diingat, keberlanjutan bukan lagi menjadi beban, melainkan keunggulan dalam persaingan global," ujar Agus.
Dari sisi pasar, peluang ekspor produk TPT Indonesia juga berpotensi semakin terbuka melalui implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan kesiapan industri, terutama dalam menjaga kualitas, efisiensi produksi, inovasi, dan pemenuhan standar internasional.
Pemerintah juga ingin investasi yang masuk ke sektor TPT tidak berhenti pada penambahan modal. Investasi diharapkan ikut mendorong kapasitas produksi, memperluas ekspor, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
Untuk itu, Kementerian Perindustrian akan terus melibatkan pelaku usaha, asosiasi, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga terkait dalam memperkuat industri TPT.
Baca Juga: Kemenperin Dorong IKM Lokal Jadi Pemasok Komponen Kendaraan Listrik
Baca Juga: Menperin: Industrialisasi Jadi Kunci Prabowo Wujudkan Kemandirian Ekonomi
Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri
"Pemerintah mendukung para pelaku industri tekstil dan produk tekstil dalam meningkatkan daya saing dan memenangkan kompetisi global. Kita wujudkan industri TPT Indonesia yang mampu bertahan menghadapi perubahan serta tumbuh lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan," kata Agus.
Momentum perbaikan industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 yang masih berada di level ekspansi, yakni 53,10. Angka tersebut menunjukkan aktivitas dan kepercayaan pelaku industri terhadap kondisi usaha masih berada dalam zona positif.
Bagi industri TPT yang memiliki basis tenaga kerja besar, kondisi tersebut menjadi modal untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus memperbesar perannya dalam perekonomian nasional.
Memasuki momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tantangan industri TPT memang belum sepenuhnya hilang. Namun, dengan mulai pulihnya aktivitas usaha, masuknya investasi, serta kebutuhan untuk beradaptasi dengan teknologi dan standar global, sektor ini masih memiliki ruang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok industri dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan