Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diinginkan Haji Isam, tapi BYAN Dapat Status Khusus Ini dari BEI

        Diinginkan Haji Isam, tapi BYAN Dapat Status Khusus Ini dari BEI Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tengah menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul kabar mengenai rencana pengambilalihan sekitar 62,25% saham perusahaan oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

        Rumor tersebut semakin menarik perhatian setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan kepada manajemen BYAN. Namun, perseroan menegaskan belum mengetahui adanya rencana transaksi seperti yang beredar di pasar.

        Corporate Secretary Bayan Resources, Jenny Quantero mengatakan BYAN tidak memiliki informasi mengenai rencana pengambilalihan maupun akuisisi sekitar 62,25% saham oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengannya.

        "Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,25 persen saham Perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam," kata Jenny dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (18/8/2026).

        Di tengah rumor tersebut, struktur kepemilikan saham BYAN turut menjadi sorotan. BEI sebelumnya menetapkan BYAN sebagai emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Berdasarkan data per 30 Juni 2026, sekitar 98,50% saham BYAN dikuasai oleh sejumlah pemegang saham tertentu.

        Mengacu pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Juli 2026, kepemilikan BYAN memang masih terkonsentrasi pada sejumlah pemegang saham besar. Salah satunya adalah Sumber Suryadaya Prima, yang tercatat menggenggam sekitar 3,3 miliar saham atau setara 10% dari total saham BYAN.

        Sementara itu, Korea East-West Power, Korea Western Power, Korea Southern Power, Korea Midland Power, dan Korea South-East Power masing-masing menguasai sekitar 1,33 miliar saham atau 4%.

        Jenny Quantero tercatat memiliki 994,97 juta saham atau 2,98%. Adapun Low Tuck Kwong menguasai sekitar 13,41 miliar saham atau 40,25%, disusul Lim Chai Hock sebesar 1,08 miliar saham atau 3,26% dan Elaine Low sekitar 7,33 miliar saham atau 22%.

        Baca Juga: Saham BYAN Anjlok di Awal Perdagangan, Tersengat Isu Diakuisisi Haji Isam

        Baca Juga: Saham BYAN Ambruk 14%, IHSG Terseret Turun 1% ke Level 6.384,22

        Baca Juga: Saham-saham Milik Haji Isam Kompak Terbang Tinggi di Tengah Rumor Akuisisi BYAN

        Dengan struktur tersebut, saham free float BYAN tercatat sekitar 7,09 miliar saham atau 21,29%. Jumlah investor yang tercatat sebagai pemegang saham berdasarkan Single Investor Identification (SID) juga turun menjadi 3.593 investor pada Juli 2026, dari 3.712 investor pada bulan sebelumnya.

        Meski menyandang status HSC, penetapan tersebut tidak otomatis berarti BYAN melakukan pelanggaran terhadap aturan pasar modal. 

        Namun, status tersebut berdampak terhadap keberadaan BYAN dalam sejumlah indeks saham. BYAN tidak dapat menjadi konstituen IDX30, LQ45, maupun IDX80. 

        Saham tersebut juga tidak masuk dalam indeks MSCI, sehingga ruang pergerakannya dalam sejumlah indeks acuan investor domestik maupun global menjadi lebih terbatas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: