Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PSI Sentil Budi Arie: Politik Itu Arena Perjuangan, Bukan Perjudian Demi Kejar Jabatan Menteri Lagi

        PSI Sentil Budi Arie: Politik Itu Arena Perjuangan, Bukan Perjudian Demi Kejar Jabatan Menteri Lagi Kredit Foto: Kominfo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melontarkan sindiran tajam kepada Ketua Umum (Ketum) Projo Budi Arie Setiadi. Hal ini menyusul pernyataan dan manuver politik sosok tersebut yang belakangan menjadi sorotan di media sosial.

        Wakil Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia Andy Budiman menegaskan politik seharusnya digunakan sebagai arena perjuangan untuk kepentingan publik, bukan sebagai sarana berjudi demi mendapatkan kembali jabatan di pemerintahan.

        Baca Juga: PSI Ogah Berurusan dengan Budi Arie Usai Blunder Ketum Projo: Dia Bukan Bagian dari Kami, Titik!

        “PSI tidak butuh avonturir politik yang ke sana kemari memainkan manuver spekulatif. Politik adalah arena perjuangan bukan arena perjudian pribadi untuk mengejar jabatan jadi menteri lagi,” kata Andy, dikutip Rabu (26/8/2026).

        Andy juga memastikan sosok relawan politik itu bukan anggota maupun pengurus dari PSI. Karena itu, seluruh tindakan dan pernyataan sosok itu menjadi tanggung jawab pribadi dan tidak dapat dikaitkan dengan PSI.

        “Kami tegaskan dia bukan bagian dari PSI. Titik. Karena itu, berhenti menyeret-nyeret nama PSI dalam setiap tindakan, pernyataan, maupun urusan Budi Arie,” tegas Andy.

        Ia juga meminta publik tidak menganggap Budi Arie sebagai representasi PSI.

        “Dia tidak mewakili PSI. Dia bukan PSI,” ujarnya.

        Sebelumnya, Ketum Projo Budi Arie membuat pernyataan yang kemudian viral di media sosial. Dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia mengaku memiliki insting bahwa pemilu dapat berlangsung lebih cepat dari jadwal 2029.

        "Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.

        Budi Arie juga mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia membandingkannya dengan situasi menjelang perubahan besar pada akhir Orde Baru.

        Baca Juga: Dedi Mulyadi Soal Kemungkinannya Tinggalkan Gerindra Demi PSI: Itu Bukan Tidak Benar

        "Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi," tegasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: