Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Komisi XI DPR RI menetapkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031. Dalam keputusan yang diambil melalui musyawarah mufakat pada Kamis (27/8/2026), Destry ditetapkan bersama Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Penetapan tersebut dilakukan setelah ketiganya menjalani rangkaian uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Keputusan Komisi XI selanjutnya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk memperoleh persetujuan.
Jika disahkan, Destry akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur BI secara definitif. Ia juga bukan orang baru di bank sentral karena telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan kembali dipercaya untuk periode 2024-2029.
Sebelumnya, Destry merupakan Calon Gubernur BI yang dicalonkan tunggal oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam surat yang sama, Prabowo juga mengajukan Aida sebagai calon tunggal Deputi Gubernur Senior BI. Sementara untuk posisi Deputi Gubernur BI, pemerintah mengajukan Solikin dan M. Anwar Bashori.
Destry Damayanti lahir di Jakarta pada 1963. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia dan kemudian meraih gelar Master of Science bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat, pada 1992.
Karier Destry dimulai dari dunia akademik. Pada 1987-1990, ia menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Setelah itu, Destry masuk ke Kementerian Keuangan dan bekerja pada periode 1992-1997.
Dari pemerintahan, ia berpindah ke sektor swasta sebagai ekonom Citibank pada 1997-2000. Pengalamannya kemudian bertambah di ranah internasional ketika dipercaya menjadi Senior Economic Adviser bagi Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003.
Baca Juga: Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Wanita Pertama, Pimpin Bank Sentral untuk Periode 2026-2031
Karier Destry berlanjut di sektor keuangan nasional. Ia menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas dan kemudian Bank Mandiri pada periode 2005-2015, sekaligus menjabat Direktur Eksekutif Mandiri Institute.
Di pemerintahan, Destry pernah menjadi Ketua Task Force Ketahanan Ekonomi Kementerian BUMN pada 2014-2015. Pada 2015, ia dipercaya menjadi Ketua Tim Panitia Seleksi Pimpinan KPK untuk periode 2015-2019. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk periode 2015-2019.
Masuk BI hingga Menjadi Gubernur
Babak penting karier Destry dimulai pada 2019 ketika Presiden menetapkannya sebagai Deputi Gubernur Senior BI berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2019. Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2019.
Pada 2024, Destry kembali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI untuk periode 2024-2029. Posisi tersebut kemudian membawanya menjadi salah satu figur utama dalam pengambilan kebijakan bank sentral.
Setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri pada Juli 2026, Destry menjalankan tugas sebagai pejabat gubernur sementara. Presiden Prabowo Subianto kemudian mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan, Destry menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan, lapangan kerja dan stabilitas keuangan. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antarlembaga tanpa menghilangkan independensi BI.
Dengan latar belakang akademisi, birokrat, ekonom perbankan, pengawas industri keuangan hingga bank sentral, Destry memiliki rekam jejak yang relatif lengkap di berbagai sisi perekonomian Indonesia.
Aida S. Budiman: 35 Tahun Berkarier di Bank Indonesia
Untuk posisi Deputi Gubernur Senior BI, Komisi XI menetapkan Aida S. Budiman sebagai calon terpilih periode 2026-2031.
Aida lahir di Bogor pada 1965. Ia merupakan ekonom dengan latar belakang yang hampir seluruh karier profesionalnya dibangun di Bank Indonesia.
Aida menyelesaikan pendidikan Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis di Institut Pertanian Bogor pada 1987. Ia kemudian meraih gelar Master of Economics dari University of Southern California pada 1996 dan gelar PhD bidang Ekonomi dari Claremont Graduate University pada 2001.
Aida mulai bergabung dengan Bank Indonesia pada 1991. Selama lebih dari tiga dekade, ia menempati berbagai posisi strategis di bank sentral.
Baca Juga: Uji Kelayakan di DPR, Aida Targetkan Ekonomi Tumbuh di Atas 7%
Pada 2014-2018, Aida menjabat Kepala Departemen Internasional. Setelah itu, ia dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter.
Pada 2020-2022, Aida menjabat Asisten Gubernur yang membawahi Kebijakan Strategis Sektor Moneter, Bauran Kebijakan BI serta sinergi dengan bauran kebijakan nasional.
Aida kemudian resmi menjadi Deputi Gubernur BI berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 147/P Tahun 2021. Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 6 Januari 2022 dengan masa jabatan hingga 2027.
Pengalaman Aida juga tidak hanya terbatas di dalam negeri. Ia pernah menjalankan tugas sebagai Alternate Executive Director South-East Asia Voting Group di Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC.
Dengan pengalaman sekitar 35 tahun di BI, Aida dikenal memiliki spesialisasi pada kebijakan moneter, kebijakan ekonomi internasional dan bauran kebijakan bank sentral.
Dalam pencalonannya sebagai Deputi Gubernur Senior, Aida mengusung visi “Bersama Menuju Indonesia Maju: Kebijakan Bank Sentral yang Adaptif, Inovatif, dan Akseleratif.” Ia menargetkan BI menjadi salah satu bank sentral terbaik di kelompok negara emerging economies.
Solikin M. Juhro: Pakar Makroprudensial dengan Karier 30 Tahun di BI
Sementara itu, Komisi XI menetapkan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI periode 2026-2031.
Catatan penting, nama yang digunakan dalam dokumen resmi BI adalah Solikin M. Juhro, bukan “Solihin”. Ia lahir di Surabaya pada 10 Oktober 1967.
Solikin menyelesaikan pendidikan sarjana Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Airlangga pada 1991. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di University of Michigan dengan konsentrasi Economics dan lulus pada 1998.
Pendidikan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktor. Solikin memperoleh gelar doktor bidang Monetary Economics dari Universitas Indonesia pada 2005.
Baca Juga: Prabowo Sodorkan Nama M Juhro dan Anwar Basori Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Ini Rekam Jejaknya
Kariernya di BI dimulai pada 20 September 1994. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia telah menempati sejumlah posisi strategis di bank sentral.
Solikin pernah menjadi Pelaksana Tugas Kepala Departemen Institut BI pada 2016-2018, kemudian Kepala Departemen Institut BI pada 2018-2022. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada 2022-2023.
Sejak 16 Juni 2023, Solikin menjabat Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Pengalaman tersebut membuat Solikin memiliki rekam jejak kuat dalam perumusan kebijakan makroekonomi, moneter dan makroprudensial.
Dalam fit and proper test pada 27 Agustus 2026, Solikin menekankan pentingnya pengelolaan siklus ekonomi melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial dan koordinasi fiskal dengan pemerintah.
Ia juga menyoroti pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk memperbesar kapasitas pembiayaan ekonomi nasional. Menurut Solikin, pasar keuangan yang semakin dalam akan membuat instrumen keuangan dapat lebih optimal digunakan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.
Tiga Figur dengan Latar Belakang Berbeda
Penetapan ketiganya membentuk kombinasi kepemimpinan baru BI dengan latar belakang yang cukup berbeda.
Destry Damayanti memiliki pengalaman lintas sektor, mulai dari akademisi, Kementerian Keuangan, Citibank, perbankan nasional, LPS hingga BI. Rekam jejak tersebut membuatnya memiliki pengalaman pada sisi kebijakan pemerintah sekaligus industri keuangan.
Aida S. Budiman merupakan teknokrat bank sentral yang menghabiskan sebagian besar kariernya di BI. Pengalamannya terutama berada di bidang kebijakan moneter, ekonomi internasional dan koordinasi bauran kebijakan.
Sementara Solikin M. Juhro memiliki basis kuat pada riset ekonomi, kebijakan moneter dan makroprudensial. Lebih dari 30 tahun berada di BI, ia kini disiapkan mengisi posisi Deputi Gubernur.
Dengan demikian, jika keputusan Komisi XI mendapat persetujuan dalam rapat paripurna, susunan kepemimpinan BI periode 2026-2031 akan diisi oleh tiga teknokrat dengan pengalaman panjang di bidang ekonomi dan kebijakan bank sentral.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra