Usai Video Kontroversi, Jokowi Diamkan Ketum Projo Budi Arie Tak Akan Pernah Diterima oleh PSI
Kredit Foto: Istimewa
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus mengungkap sikap terbaru dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi. Kali ini sikap terkait polemik penolakan bergabungnya Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi ke PSI.
Menurut Bestari, keputusan pihaknya menolak sosok tersebut bukan merupakan instruksi maupun arahan dari Jokowi. Ia memastikan sikap tersebut lahir dari aspirasi internal partai setelah pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan percepatan pemilu memicu kegaduhan politik.
Baca Juga: PSI Bongkar Jokowi Akan Keliling Jateng, Bawa Pesan Khusus di Kandang Banteng
“Pak Jokowi tidak berkomentar soal itu dan itu suara kami,” jelas Bestari, dikutip Rabu (2/9/2026).
Jokowi diketahui memiliki hubungan politik yang erat dengan PSI. Putra Bungsunya, Kaesang Pangarep menjabat sebagai Ketua Umum PSI.
Namun, Bestari menegaskan pihaknya tidak ingin sikap partai terhadap sosok itu dianggap sebagai keputusan yang datang dari Jokowi.
Ia mengatakan pihaknya memiliki mekanisme sendiri dalam menentukan siapa yang dapat bergabung dengan partai. Setiap calon anggota akan dinilai berdasarkan kriteria dan ketentuan internal yang telah ditetapkan.
“Kami punya mekanisme menetapkan siapa yang akan kita libatkan bersama kita dan siapa yang mungkin kita pikirkan untuk ikut bersama kita. Ada kriteria ketentuan yang nanti biarlah mekanisme yang menentukan,” terang Bestari.
Bestari juga menegaskan partainya memiliki garis politik sendiri dan tidak ingin masyarakat menganggap pihaknya ikut menggaungkan wacana percepatan pemilu melalui Budi Arie.
“Kita ketahui bahwa apa yang disampaikan menimbulkan kegaduhan dan sebagainya. Kita hanya tidak ingin bahwa masyarakat melihat ini sebagai sesuatu yang digaungkan PSI melalui orang yang seperti itu. Padahal tidak ada,” ujar Bestari.
Sebelumnya, Ketum Projo Budi Arie dinyatakan tidak akan pernah diterima oleh PSI. Ia sebelumnya diketahui membuat pernyataan yang kemudian viral di media sosial.
Dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia mengaku memiliki insting bahwa pemilu dapat berlangsung lebih cepat dari jadwal 2029.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.
Budi Arie juga mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia membandingkannya dengan situasi menjelang perubahan besar pada akhir Orde Baru.
Baca Juga: Soal Video Budi Arie, Mahfud MD: Kalau Harus Dikatakan, Ini Memang Sengaja oleh Timnya Pak Jokowi
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi," tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar