Isu Duet Dedi Mulyadi-Ahok di Pilpres 2029 Mencuat, Aktivis 212 Senggol Potensi Politik Identitas Lagi
Kredit Foto: Youtube/Basuki Tjahaja Purnama
Wacana pasangan Dedi Mulyadi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian. Isu tersebut turut mendapat sorotan dari Ketua Korlabi sekaligus aktivis 212, Damai Hari Lubis.
Damai menilai wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok perlu dilihat lebih jauh, termasuk kemungkinan bahwa isu tersebut sengaja dilempar ke ruang publik untuk mengukur respons masyarakat.
"Apakah isu KDM-Ahok hanya sekadar testing the water, atau memang ada kelompok politik tertentu yang sedang mencoba membangun wacana tersebut?” ujar Damai.
Menurutnya, pembahasan mengenai figur yang berpotensi masuk dalam konfigurasi politik menuju Pilpres 2029 tidak hanya mengarah kepada Dedi Mulyadi dan Ahok. Nama mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad juga disebut dalam sejumlah diskusi mengenai kandidat potensial.
Damai menilai Dedi Mulyadi dan Ahok memiliki karakter politik yang berbeda. Dedi dikenal memiliki basis dukungan kuat di Jawa Barat dengan pendekatan yang banyak mengangkat budaya lokal dan persoalan masyarakat.
Sementara itu, Ahok memiliki pengalaman pemerintahan dan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas serta pendekatan birokrasi yang kuat.
Jika keduanya benar-benar dipasangkan, Damai melihat adanya kombinasi antara karakter politik berbasis budaya lokal dengan pengalaman pemerintahan dan teknokrasi.
"Secara politik, keduanya bisa dipandang sebagai kombinasi antara rakyat dan birokrasi, serta budaya lokal dan politik nasional,” katanya.
Di sisi lain, Damai mengingatkan adanya potensi munculnya politik identitas apabila wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok benar-benar berkembang menjadi pencalonan pada Pilpres 2029.
Ia merujuk pada sejumlah kontestasi politik sebelumnya, termasuk Pilkada DKI Jakarta 2017 serta Pilpres 2019 dan 2024, yang menurutnya menunjukkan bahwa isu sosial, agama, dan etnis masih dapat menjadi bagian dari strategi mobilisasi politik.
Menurut Damai, karakter dan latar belakang kedua figur tersebut berpotensi menjadi bahan bagi pihak-pihak tertentu untuk membangun narasi tandingan dalam kontestasi politik.
"Semakin kuat pasangan KDM-Ahok dipromosikan, semakin besar pula kemungkinan munculnya counter-narrative yang menjadikan identitas sebagai alat mobilisasi elektoral,” ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini wacana duet Dedi Mulyadi-Ahok untuk Pilpres 2029 masih sebatas spekulasi politik. Belum ada keputusan resmi mengenai pasangan calon yang akan diusung untuk kontestasi tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: