Kredit Foto: Istimewa
Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai ekonomi industri kelapa dan memperkuat posisinya di pasar global. Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia, tantangan Indonesia kini bukan hanya meningkatkan volume produksi, melainkan mendorong komoditas tersebut naik kelas melalui hilirisasi, inovasi produk, dan penguatan industri pengolahan.
Peluang tersebut disoroti Tetra Pak, perusahaan global di bidang pemrosesan dan pengemasan makanan, bertepatan dengan peringatan Hari Kelapa Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kelapa tidak sekadar komoditas pertanian, tetapi juga sumber pangan, mata pencaharian, dan potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Tahun ini, Hari Kelapa Sedunia mengusung tema “Kelapa di Tengah Ketidakpastian: Menjamin Pangan, Energi, dan Mata Pencaharian”. Tema tersebut relevan bagi Indonesia yang memiliki sumber daya kelapa besar, namun masih memiliki ruang luas untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah melalui industri hilir.
Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2,132 juta ton kelapa per tahun. Namun, produktivitas nasional masih diperkirakan sekitar 1,1 ton per hektare per tahun, di bawah potensi produksi yang dapat mencapai 3,5-5 ton per hektare. Di sisi lain, sekitar 98% perkebunan kelapa nasional dikelola oleh petani skala kecil.
Kondisi tersebut membuka peluang besar untuk memperkuat ekosistem kelapa, mulai dari peningkatan produktivitas di tingkat perkebunan hingga pengembangan produk bernilai tambah yang mampu menjangkau pasar domestik maupun internasional.
Processing Director untuk Malaysia, Singapore, Filipina & Indonesia (MSPI) Tetra Pak, Hemang Dholakia, mengatakan Tetra Pak telah bekerja sama dengan produsen kelapa di Indonesia selama hampir 40 tahun dalam menghadapi berbagai kompleksitas pengolahan bahan baku menjadi produk berkualitas.
“Tetra Pak telah bekerja sama dengan para produsen kelapa di Indonesia selama hampir 40 tahun, membantu mereka menghadapi berbagai kompleksitas dalam pengolahan kelapa dan mengubah bahan baku menjadi produk yang aman dan berkualitas tinggi, sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional,” ujar Hemang.
Menurut dia, fokus Indonesia dalam meningkatkan produktivitas kelapa perlu diikuti dengan penguatan proses hilirisasi. Penerapan teknologi yang tepat, inovasi, diferensiasi produk, serta pengembangan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pasar menjadi bagian penting untuk menciptakan nilai ekonomi lebih besar.
Komitmen pemerintah dalam memperkuat rantai nilai kelapa juga terlihat melalui rencana pengembangan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa di 28 provinsi yang diumumkan pada Juli 2026.
Namun, mengembangkan industri hilir kelapa membutuhkan dukungan teknologi karena bahan baku ini memiliki karakteristik yang kompleks. Produk kelapa rentan terhadap perubahan kimia dan biokimia, sementara air kelapa sangat sensitif terhadap paparan oksigen. Menjaga cita rasa, kualitas, dan kandungan nutrisi pun membutuhkan pengendalian yang tepat dalam seluruh proses pengolahan.
Tetra Pak menawarkan dukungan mulai dari pengembangan konsep produk, pengolahan, hingga pengemasan dan komersialisasi. Melalui Customer Innovation Centre dan Product Development Centre, produsen dapat menguji dan menyempurnakan produk sebelum memasuki tahap produksi komersial.
Dari sisi teknologi, AirTight™ separator membantu mencegah masuknya udara dalam proses pengolahan. Sementara teknologi Direct UHT atau DUHT dirancang untuk membantu mempertahankan kesegaran air kelapa dan santan selama masa simpan yang lebih panjang.
Jika dipadukan dengan kemasan karton aseptik, solusi tersebut dapat memberikan masa simpan produk hingga satu tahun tanpa penggunaan bahan pengawet. Hal ini membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk memperluas distribusi dan menjangkau pasar ekspor.
Potensi pertumbuhan juga datang dari inovasi produk. Secara global, minuman kelapa hybrid ready-to-drink yang memadukan air kelapa dengan teh, kopi, minuman energi, dan minuman olahraga mencatat pertumbuhan tahunan rata-rata 42% sepanjang 2022-2025.
Di pasar domestik, peluang juga terbuka bagi produk santan kemasan. Pertumbuhan urbanisasi, e-commerce, dan ritel modern mendorong kebutuhan terhadap produk siap pakai yang menawarkan kepraktisan, keamanan, dan kualitas lebih konsisten. Pasar santan Indonesia sendiri diperkirakan tumbuh dengan CAGR 10,58% pada periode 2025-2030.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kelapa memiliki potensi untuk hadir dalam semakin banyak kategori dan momen konsumsi. Bagi produsen Indonesia, perpaduan antara pemahaman terhadap konsumen, teknologi pengolahan, inovasi produk, dan pengemasan menjadi kunci untuk mengubah potensi bahan baku menjadi produk bernilai tambah.
Tetra Pak menyatakan akan terus mendukung perkembangan industri kelapa Indonesia melalui pengetahuan global, pemahaman pasar lokal, serta kapabilitas pengolahan dan pengemasan yang terintegrasi. Dengan penguatan hilirisasi, kelapa diharapkan tidak hanya menjadi komoditas unggulan Indonesia, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat lebih besar bagi petani, pelaku industri, konsumen, dan masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait: