Trump Mulai Ubah Istilah 'Perang' Iran jadi 'Konflik Militer'
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengubah cara pemerintahannya menyebut konflik dengan Iran. Di tengah berlanjutnya serangan dan aksi balasan kedua negara, Trump belakangan memilih istilah yang lebih lunak dengan menyebutnya sebagai “military conflict” atau konflik militer, bukan perang.
Perubahan istilah tersebut muncul setelah Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menyatakan bahwa dirinya tidak menyebut situasi dengan Iran sebagai perang. Vance menilai kondisi yang berlangsung tidak tepat disebut sebagai perang, meski Amerika Serikat telah melakukan serangkaian serangan terhadap sasaran di Iran dan Teheran melakukan serangan balasan terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan.
Trump kemudian memperkuat narasi tersebut. Dalam pernyataannya pada Jumat (4/9/2026), Trump menyebut konflik itu sebagai “military conflict” dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang relatif kecil dibandingkan perang-perang besar yang pernah dihadapi Amerika Serikat.
Ia juga menyebut konflik tersebut sebagai “small potatoes” dan menekankan bahwa operasi militer AS berlangsung secara tidak terus-menerus. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa Gedung Putih berupaya membedakan operasi militer terhadap Iran dari gambaran perang skala besar.
Perubahan istilah tersebut terjadi ketika aktivitas militer AS dan Iran justru kembali meningkat.
Pada awal September, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran militer Iran. Serangan tersebut menyasar antara lain sistem pertahanan udara, radar, serta fasilitas militer yang berkaitan dengan kemampuan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah posisi yang terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Eskalasi itu mengakhiri periode jeda dalam pertempuran dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap perluasan konflik di Timur Tengah.
Trump sendiri pada 2 September mengatakan kampanye militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Namun, pada saat yang sama, dia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap melakukan serangan tambahan apabila diperlukan.
Sehari kemudian, pemerintahannya bahkan masih mempertimbangkan sasaran baru di Iran. Trump mengatakan Amerika Serikat mungkin menyerang Pickaxe Mountain, kawasan yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz.
Perubahan terminologi tersebut juga berlangsung ketika pemerintahan Trump menghadapi tekanan politik domestik.
Laporan Reuters menyebut pemerintahan Trump berupaya menjaga agar konflik dengan Iran tidak menjadi isu politik yang semakin dominan menjelang pemilu paruh waktu AS pada November. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan dukungan publik terhadap perang relatif rendah, sementara konflik telah menimbulkan korban di pihak AS dan meningkatkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap harga energi.
Karena itu, penggunaan istilah “konflik militer” dibandingkan “perang” menjadi bagian penting dari cara pemerintah menggambarkan operasi tersebut kepada publik.
Baca Juga: Trump Ingin Hentikan Serangan Militer, Ganti Serang Iran Lewat Ekonomi
Narasi itu tidak berarti aktivitas militer berhenti. Sebaliknya, serangan udara, tekanan ekonomi, blokade, dan ancaman terhadap fasilitas Iran tetap menjadi bagian dari kebijakan Trump terhadap Teheran. Pemerintah AS juga menjalankan pendekatan yang menggabungkan tekanan ekonomi dengan operasi militer untuk memaksa Iran mengubah sikapnya.
Dengan demikian, konsistensi narasi Gedung Putih terlihat bukan pada penggunaan satu istilah yang sama, melainkan pada upaya mempertahankan pesan bahwa operasi AS terhadap Iran merupakan tindakan militer terbatas untuk mencapai tujuan tertentu, bukan perang besar yang berkepanjangan.
Perubahan istilah dari “war” menjadi “military conflict” menunjukkan bagaimana pemerintahan Trump berusaha mengendalikan persepsi mengenai skala konflik. Di satu sisi, Washington tetap menunjukkan kemampuan dan kemauan untuk menggunakan kekuatan militer. Di sisi lain, pemerintah berusaha menegaskan bahwa situasi tersebut tidak boleh dipersepsikan sebagai perang besar yang membutuhkan mobilisasi seperti konflik-konflik AS sebelumnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: