Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tabrakan Beruntun Masih Sering Terjadi, Kenali Pemicu dan Cara Mencegahnya

        Tabrakan Beruntun Masih Sering Terjadi, Kenali Pemicu dan Cara Mencegahnya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tabrakan beruntun menjadi salah satu kecelakaan yang cukup berisiko, terutama ketika terjadi di jalan tol dengan kecepatan kendaraan yang relatif tinggi. Satu kendaraan yang kehilangan kendali atau terlambat melakukan pengereman dapat memicu kendaraan lain di belakangnya ikut terlibat.

        Kondisi tersebut membuat pengemudi perlu lebih waspada terhadap situasi di sekitar kendaraan. Bukan hanya kemampuan mengendalikan mobil, tetapi juga kebiasaan menjaga jarak, memperhatikan lajur, hingga memastikan kondisi kendaraan tetap prima.

        Auto2000 mengingatkan, penerapan defensive driving menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terlibat dalam tabrakan beruntun.

        Pemicu Tabrakan Beruntun

        Ada sejumlah kebiasaan berkendara yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan beruntun.

        1. Mengemudi sebagai lane hogger

        Lane hogger merupakan istilah bagi pengemudi yang terus berada di lajur kanan atau lajur cepat dengan kecepatan rendah, padahal tidak sedang melakukan manuver menyalip.

        Kondisi tersebut dapat menyulitkan kendaraan lain yang melaju lebih cepat dan berpotensi menimbulkan situasi berbahaya apabila kendaraan dari belakang harus melakukan pengereman atau berpindah lajur secara mendadak.

        2. Tidak menjaga jarak aman

        Jarak dengan kendaraan di depan menjadi faktor penting, terutama ketika mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Jarak yang terlalu dekat membuat pengemudi memiliki waktu yang lebih sedikit untuk bereaksi ketika kendaraan di depan melakukan pengereman mendadak.

        Bahkan mobil yang sudah dilengkapi berbagai fitur keselamatan tetap membutuhkan respons dari pengemudi ketika menghadapi situasi darurat.

        3. Melaju di bahu jalan tol

        Bahu jalan bukan lajur untuk digunakan kendaraan yang ingin menghindari kemacetan. Kendaraan yang berhenti di area tersebut biasanya berada dalam kondisi darurat sehingga memiliki risiko lebih tinggi jika ditabrak dari belakang.

        Penggunaan bahu jalan secara sembarangan juga dapat memicu kecelakaan ketika kendaraan harus kembali masuk ke lajur utama.

        4. Terdistraksi saat mengemudi

        Perhatian yang teralihkan, termasuk karena menggunakan ponsel, dapat membuat pengemudi terlambat menyadari perubahan kecepatan kendaraan di depannya.

        Dalam kondisi lalu lintas padat, keterlambatan beberapa detik saja bisa membuat pengemudi harus melakukan pengereman mendadak dan meningkatkan risiko terjadinya tabrakan beruntun.

        5. Mengemudi dalam kondisi mengantuk

        Rasa kantuk dapat menurunkan konsentrasi dan memperlambat respons pengemudi. Dalam kondisi tertentu, pengemudi bahkan bisa kehilangan kesadaran terhadap situasi di sekelilingnya dalam waktu singkat.

        Mobil yang tiba-tiba berpindah arah atau kehilangan kecepatan tanpa disadari tentu berisiko membahayakan kendaraan lain.

        6. Pindah lajur tanpa memperhatikan kondisi sekitar

        Perpindahan lajur seharusnya dilakukan setelah pengemudi memastikan kondisi di sekitar kendaraan melalui spion dan memberikan lampu sein.

        Memaksakan pindah lajur ketika ada kendaraan lain yang melaju dari belakang dapat membuat kendaraan tersebut harus melakukan pengereman atau manuver mendadak.

        7. Mengabaikan aturan lalu lintas

        Rambu batas kecepatan, marka jalan, hingga aturan mengenai penggunaan lajur dibuat untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.

        Mengabaikan aturan tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terlebih ketika pengemudi mengambil keputusan secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan kondisi lalu lintas.

        8. Lampu kendaraan tidak berfungsi

        Kondisi kendaraan juga tidak boleh diabaikan. Lampu, khususnya lampu rem, berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan pengemudi di belakang.

        Jika lampu rem tidak bekerja dengan baik, kendaraan di belakang bisa terlambat mengetahui bahwa mobil di depannya sedang mengurangi kecepatan. Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya tabrakan beruntun.

        Cara Mengurangi Risiko Tabrakan Beruntun

        Selain memahami pemicunya, pengemudi dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko kecelakaan.

        1. Jaga jarak aman

        Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah menggunakan patokan waktu tiga detik dengan kendaraan di depan. Jarak tersebut perlu ditambah ketika kondisi jalan licin, visibilitas terbatas, atau kendaraan melaju lebih cepat.

        Dengan jarak yang cukup, pengemudi memiliki waktu lebih panjang untuk bereaksi ketika terjadi perubahan kondisi di depan.

        2. Sesuaikan kecepatan

        Kecepatan berkendara perlu disesuaikan dengan aturan, kondisi jalan, dan situasi lalu lintas. Terlalu lambat dapat mengganggu arus kendaraan, sementara kecepatan berlebihan membuat waktu untuk melakukan pengereman semakin terbatas.

        3. Gunakan lajur sesuai kebutuhan

        Setelah selesai mendahului, pengemudi sebaiknya kembali ke lajur yang sesuai dan tidak terus berada di lajur kanan tanpa kebutuhan.

        Kebiasaan tersebut membantu menjaga kelancaran arus lalu lintas sekaligus mengurangi potensi konflik dengan kendaraan lain.

        4. Tetap fokus

        Pengemudi perlu menjaga perhatian selama berada di balik kemudi. Ponsel dan berbagai aktivitas lain yang dapat mengalihkan perhatian sebaiknya disimpan terlebih dahulu.

        Selain melihat kendaraan di depan, pengemudi juga perlu memperhatikan kondisi lalu lintas secara lebih luas untuk mengantisipasi perubahan situasi.

        5. Periksa spion secara berkala

        Spion membantu pengemudi mengetahui kondisi kendaraan di sekitar, termasuk kendaraan yang berada di belakang.

        Dalam situasi tertentu, pengecekan spion juga penting sebelum melakukan pengereman atau perpindahan lajur sehingga pengemudi dapat memperkirakan respons kendaraan lain.

        Baca Juga: BYD Bangun Ekosistem Baterai di Indonesia, Begini Nasib Baterai Mobil Lama

        Baca Juga: Mobil BBM Kian Tergerus, Mobil Listrik dan Hybrid Naik Pesat

        Baca Juga: BYD Tak Lagi Tambah Mobil Impor, Penjualan Fokus Produk Lokal

        6. Pastikan kondisi mobil tetap prima

        Komponen kendaraan yang berkaitan dengan keselamatan perlu diperiksa secara berkala. Kondisi rem, ban, lampu, dan komponen lainnya harus dipastikan berfungsi dengan baik agar kendaraan dapat bekerja optimal ketika menghadapi situasi darurat.

        Marketing Division Head Auto2000 Nur Imansyah Tara mengatakan, perilaku pengemudi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kecelakaan beruntun.

        “Tabrakan beruntun kerap terjadi lantaran pengguna kendaraan tidak patuh aturan lalu lintas seperti menjadi lane hogger, mengemudi di kecepatan yang tidak sesuai, tidak menjaga jarak aman, dan mengemudi di bahu jalan,” kata Nur, Sabtu (5/9/2026).

        Selain perilaku berkendara, menurut dia, kondisi kendaraan juga perlu dijaga melalui perawatan berkala.

        “Pastikan mobil dalam kondisi prima supaya dapat mencegah kecelakaan dengan servis berkala di bengkel Auto2000,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: