Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Potensi Biomassa RI 83,4 Juta Ton, PLN EPI Buka Peluang Kolaborasi

        Potensi Biomassa RI 83,4 Juta Ton, PLN EPI Buka Peluang Kolaborasi Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mencatat potensi bahan baku energi hayati di Indonesia mencapai 83,4 juta ton per tahun. Potensi tersebut akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan pelaku usaha dan mitra strategis untuk memperkuat rantai pasok biomassa sekaligus menciptakan nilai ekonomi di daerah.

        Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan sumber biomassa tersebut berasal dari berbagai residu pertanian, perkebunan, kehutanan hingga sampah. Sebagian besar sumber bahan baku juga berada di sekitar titik pembangkit PLN sehingga dinilai dapat mendukung pembangunan rantai pasok yang lebih efisien.

        “Semua sumber biomassa itu ada di dekat titik-titik pembangkit milik PLN. Dekat sekali. Potensi ini harus kita bangun menjadi sebuah ekosistem agar memberikan nilai tambah, bukan hanya untuk sektor energi, tetapi juga bagi masyarakat dan pelaku usaha di daerah,” ujar Hokkop dalam ASPEBINDO *Bioenergy Business Summit* 2026 di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

        PLN EPI memetakan potensi tersebut berdasarkan wilayah. Sumatra menjadi daerah dengan potensi terbesar mencapai sekitar 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan 18,9 juta ton dan Jawa 13,1 juta ton.

        Bahan baku tersebut antara lain berasal dari residu kelapa sawit, kayu, sekam padi, tebu, jagung hingga limbah perkotaan.

        Untuk mengoptimalkan pasokan, PLN EPI mengembangkan rantai pasok berbasis sub-hub, hub, dan main hub. Sub-hub berfungsi sebagai titik pengumpulan bahan baku, sedangkan hub digunakan untuk produksi, penyimpanan dan pengendalian kualitas.

        Sementara itu, main hub memiliki fungsi yang lebih terintegrasi, mulai dari produksi, blending, penyimpanan hingga pengendalian kualitas sebelum biomassa didistribusikan ke pembangkit maupun pengguna lainnya.

        PLN EPI menargetkan volume penggunaan biomassa meningkat dari 3,7 juta ton pada 2026 menjadi 10 juta ton pada 2030. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari peta jalan bisnis energi hayati perusahaan hingga 2030.

        Hokkop mengatakan pengembangan rantai pasok biomassa juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal. Saat ini, PLN EPI telah bekerja sama dengan hampir 200 mitra pemasok, dengan sekitar 80% di antaranya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

        “Jadi ekonomi sirkularnya jalan. 2,5 juta ton itu rata-rata dari kolaborasi antara mitra usaha UMKM dengan teman-teman di desa,” kata Hokkop.

        Selain biomassa untuk mendukung program co-firing PLTU, PLN EPI mengembangkan lima lini bisnis energi hayati, yakni biomassa, compressed biogas (CBG), pengelolaan sampah, bio-charcoal, serta dedieselization.

        Dalam peta jalan 2026-2030, pengembangan CBG ditargetkan mencapai 2.957 BBTU, waste management 251,4 kiloton, bio-charcoal 58,8 kiloton, dan program dedieselization sebesar 25 MW.

        Baca Juga: Bahlil Sebut BLU Batu Bara Sudah Ada, Nasib PLN EPI Jadi Tanda Tanya

        Baca Juga: BLU Energi Disiapkan, PLN EPI Buka Suara

        Dari pengembangan berbagai lini tersebut, PLN EPI menargetkan pemanfaatan hingga 20 juta ton limbah per tahun, pengurangan emisi sekitar 12 juta ton CO₂e per tahun, serta penciptaan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.

        PLN EPI juga menjajaki pengembangan biohidrogen melalui proses gasifikasi. Hidrogen yang dihasilkan berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk sebagai bahan baku produksi amonia.

        “Kalau kita dekat dengan industri pangan, let’s do this. Kalau dekat dengan industri agro, let’s do this. Kalau dekat dengan industri perkayuan, limbahnya bisa kita kelola menjadi bahan-bahan pengganti fosil. Jadi semua sumber hayati itu sebenarnya bisa dimanfaatkan,” ujar Hokkop.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: