Belum Berani Masuk Daratan Iran, AS Alihkan Medan Pertempuran ke Laut
Kredit Foto: Istimewa
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase baru setelah pertempuran yang berlangsung selama berbulan-bulan semakin banyak terjadi di wilayah laut.
Perubahan tersebut terlihat dari aksi saling serang terhadap kapal tanker dan kapal perang di sekitar Selat Hormuz. AS menyerang tiga kapal tanker Iran, sementara Iran mengklaim meluncurkan rudal balistik ke arah kapal perang AS yang berpatroli di kawasan tersebut.
Dengan perkembangan itu, laut, khususnya kawasan sekitar Selat Hormuz, menjadi salah satu area penting dalam konflik Iran-AS.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan pasukannya menyerang tiga kapal Iran dalam operasi terbaru.
Salah satu kapal tanker diserang di lepas pantai Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran. Kapal tanker lainnya diserang di dekat Jask.
Sementara itu, sebuah kapal yang tidak membawa muatan diserang di Teluk Oman setelah awak kapal diperintahkan meninggalkan kapal tersebut.
Militer AS menyatakan serangan terhadap kapal-kapal Iran dilakukan setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke arah kapal induk dan kapal perusak AS.
Serangan rudal tersebut, menurut militer AS, berhasil dihindari dan tidak menyebabkan personel AS terluka.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa sasaran dalam konflik tidak hanya berada di daratan. Kapal tanker yang berkaitan dengan kegiatan ekspor minyak Iran dan kapal perang yang menjadi bagian dari kekuatan militer kedua negara kini turut menjadi sasaran.
Iran membenarkan bahwa pasukannya meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah kapal perang AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menuduh kapal-kapal perang AS mengganggu kapal Iran dan terlibat dalam blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Analis pertahanan Wolfgang Pusztai menilai tindakan Iran memiliki arti penting karena sasaran yang dipilih bukan sekadar kapal perang biasa.
Menurutnya, Iran menargetkan kapal perusak yang dilengkapi sistem rudal serta sebuah kapal induk yang menjadi salah satu unsur utama kekuatan militer AS dalam perang melawan Iran.
Serangan terhadap kapal induk dinilai signifikan karena kapal jenis tersebut menjadi pusat operasi militer dan dapat membawa pesawat tempur dalam jumlah besar.
Namun, klaim Iran mengenai kerusakan pada kapal perang AS belum dapat diverifikasi secara independen.
Perpindahan sebagian pertempuran ke laut tidak terlepas dari posisi Selat Hormuz dalam konflik tersebut.
Iran sebelumnya secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Karena itu, gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut memiliki kaitan langsung dengan perdagangan energi.
Dalam perkembangan terbaru, Iran juga mengatakan pasukannya menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melintasi jalur yang disebut Teheran sebagai jalur tidak resmi di Selat Hormuz.
Iran kemudian memperingatkan kapal-kapal yang berada di Teluk atau sekitar Selat Hormuz agar tidak mengikuti perintah yang dianggap sebagai upaya militer AS untuk mengarahkan mereka melalui jalur tertentu.
Teheran juga memperingatkan kapal yang tetap melintasi jalur yang dianggap tidak sah dapat menjadi sasaran.
AS menyebut kapal tanker Iran yang diserang merupakan bagian dari jaringan kapal bayangan atau shadow fleet. Jaringan tersebut dituduh digunakan Iran untuk menghindari sanksi AS dan tetap menjual minyak ke pasar internasional.
Penjualan minyak menjadi penting bagi Iran karena merupakan salah satu sumber pendapatan utama negara tersebut.
Di sisi lain, Iran menggunakan kekuatan laut untuk merespons blokade dan tekanan terhadap pelabuhan-pelabuhan negaranya. IRGC memperingatkan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz dan mengklaim melakukan serangan terhadap sejumlah kapal.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran semakin terkait langsung dengan perkembangan konflik militer.
Washington dan Teheran juga memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi Selat Hormuz. AS mengatakan jalur tersebut tetap terbuka dan jumlah kapal yang melewatinya meningkat.
Namun, data perusahaan analisis kelautan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintas lebih rendah. Kpler mencatat enam kapal melintasi Selat Hormuz pada Rabu, 11 kapal pada Selasa, dan lima kapal pada Senin. Rata-rata selama 10 hari hanya sekitar 13 kapal per hari.
Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari normal.
Direktur program studi Timur Tengah di George Washington University, Sina Azodi, menilai peningkatan serangan terbaru menunjukkan konflik Iran-AS memasuki tahap eskalasi baru.
Menurutnya, tidak ada pihak yang ingin terlihat sebagai pihak yang menyerah. Karena itu, kedua negara memiliki dorongan untuk meningkatkan tekanan terhadap lawannya.
Azodi memperingatkan bahwa tanpa penyelesaian politik, konflik berpotensi terus berlangsung. Bentrokan baru dapat terjadi dan risiko salah perhitungan semakin besar.
Baca Juga: Trump Kirim Utusan ke Rusia, Putin Janji Hentikan Serangan ke Ukraina Tiga Hari
Analis dari Pusat Studi Strategis di Teheran, Ali Akbar Dareini, juga menilai Iran tidak dapat membiarkan serangan terhadap kapal tankernya tanpa memberikan respons.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik Iran-AS kini tidak hanya berlangsung melalui serangan terhadap sasaran di daratan. Jalur laut dan kapal-kapal yang melintasi kawasan Teluk serta Selat Hormuz telah menjadi bagian dari arena konflik.
Selama kedua pihak masih mempertahankan blokade, melakukan serangan terhadap kapal, dan menggunakan tekanan ekonomi, aktivitas di laut diperkirakan tetap menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan konflik Iran-AS.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: