Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) membidik India dan Brasil sebagai pasar potensial baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Strategi tersebut ditopang oleh mulai beroperasinya pabrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengatakan India menjadi salah satu pasar paling menarik di luar China. Transisi energi yang agresif, khususnya melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan angin, meningkatkan kebutuhan negara tersebut terhadap baterai.
“Memang nomor satunya exclude China itu ada India. Jadi India memang untuk transisi energinya dia cukup agresif dan seiring dengan itu pertumbuhan permintaan baterai di India juga sangat tinggi, sehingga salah satu customer kami adalah India karena memang India akan memerlukan supply baterai,” ujar Aditya dalam forum diskusi di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Aditya mengatakan Indonesia memiliki daya saing untuk memasok baterai berbasis nickel manganese cobalt atau NMC ke India. Menurut dia, biaya baterai yang tiba di lokasi tujuan atau landed cost dari Indonesia ke India lebih kompetitif dibanding pengiriman dari China.
“Biaya kita atau landed cost baterai dari Indonesia ke India itu masih lebih kompetitif dibandingkan dari China ke India. Ini masalah trade policy. Jadi bukan... kalau kita bicara baterainya baterai NMC, maka secara inherent kita memang lebih kompetitif. Jadi dari sisi harga katoda dan semuanya kita bisa lebih kompetitif dibanding negara-negara lain,” tegasnya.
Pabrik Karawang Perkuat Pasokan Ekspor
Strategi ekspor IBC ditopang fasilitas produksi CATIB di Karawang. Pabrik baterai hasil kolaborasi IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan konsorsium CBL—yang terdiri atas Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, serta Lygen Resources—memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun.
Fasilitas itu memproduksi sel baterai, modul, dan paket baterai. Kapasitas produksi direncanakan meningkat melalui pengembangan tahap kedua sebesar 8,1 GWh per tahun, sehingga kapasitas total pabrik dapat mencapai 15 GWh per tahun.
Brasil dan Peluang Penyimpanan Energi
Selain India, IBC juga melihat Brasil sebagai pasar potensial. Aditya mengatakan Brasil selama ini dikenal dengan industri biofuel, tetapi mulai memperluas penggunaan energi surya dan angin.
Pertumbuhan energi terbarukan tersebut menciptakan kebutuhan akan sistem penyimpanan energi atau energy storage system. Baterai berperan menyimpan listrik saat produksi pembangkit surya dan angin tinggi, lalu menyalurkannya ketika pasokan dari dua sumber energi tersebut menurun.
“Kemudian diikuti dengan Brazil. Brazil memang mereka lebih banyak di biofuel tapi recently mereka sudah mulai transition juga ke arah solar and wind yang pada akhirnya tentunya nanti akan meningkatkan kebutuhan baterai,” kata Aditya.
Aditya belum merinci target volume ekspor maupun jadwal pengapalan baterai IBC ke India dan Brasil. Dengan demikian, kedua negara tersebut masih lebih tepat disebut sebagai pasar yang dibidik IBC, bukan tujuan ekspor yang telah diumumkan secara spesifik.
Lengkapi Rantai Pasok
IBC melihat Indonesia mempunyai modal besar untuk mengembangkan ekosistem baterai yang terintegrasi. Ketersediaan nikel, aluminium, dan tembaga dinilai menjadi keunggulan untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Namun, Aditya mengatakan sektor pengolahan antara atau midstream masih perlu diperkuat. Segmen tersebut mencakup pengolahan material menjadi bahan kimia dan komponen yang dibutuhkan dalam manufaktur baterai.
Baca Juga: Hampir 3 Mobil Listrik China Baru Meluncur Tiap Hari, Kualitas Baterai Jadi Tantangan
Baca Juga: BYD Bangun Ekosistem Baterai di Indonesia, Begini Nasib Baterai Mobil Lama
“Nikel itu agak sedikit beda, kita sudah ada di downstream-nya sekali dan di upstream, justru tengah-tengahnya yang masih bolong. Dan memang kalau yang di tengah-tengahnya ini itu tantangannya paling besar karena profitabilitasnya paling rendah,” ungkapnya.
Menurut Aditya, penguatan investasi serta kesinambungan insentif diperlukan untuk melengkapi ekosistem baterai dari hulu sampai hilir.
“Kalau kami melihatnya seperti itu, kalau kita bicara ekosistem baterai, maka sebetulnya sangat besar modal Indonesia untuk menjadi global epicenter karena komponen-komponen utamanya itu ada di kita,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: