Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) mengungkapkan produksi awal pabrik baterai kendaraan listrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, didominasi teknologi lithium iron phosphate (LFP). Produksi baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) masih berada di bawah porsi LFP.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengatakan komposisi tersebut terjadi karena fasilitas produksi material baterai untuk mendukung pengembangan NMC baru akan mulai dibangun pada tahun ini.
“Untuk sekarang memang masih lebih besar LFP. Karena kan material baterainya sendiri, pabrik material baterai baru akan kami mulai bangun tahun ini ya. Jadi nanti harapannya ketika pabrik material baterainya sudah jadi, nanti akan diserap juga oleh pabrik baterainya. Jadi nanti bauran NMC-nya akan lebih besar daripada...” ujar Aditya kepada wartawan di Jakarta, Senin (8/9).
Aditya tidak memerinci komposisi produksi LFP dan NMC. Namun, ia memastikan LFP menjadi jenis baterai dengan volume produksi terbesar pada fase awal pengoperasian pabrik Karawang.
“Mayoritas memang masih LFP untuk saat ini,” kata Aditya.
Pabrik CATIB telah mulai beroperasi secara bertahap dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 15 GWh per tahun melalui ekspansi fase kedua berkapasitas 8,1 GWh pada 2028. Dengan kapasitas 15 GWh, pabrik itu setara dengan kebutuhan baterai bagi sekitar 250.000 kendaraan listrik.
Pasar Menentukan Bauran Produksi
Dominasi LFP mencerminkan kebutuhan pasar baterai pada fase awal produksi. LFP umumnya digunakan untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, sementara baterai NMC memiliki peran penting dalam rantai nilai berbasis nikel yang tengah dibangun Indonesia.
IBC sebelumnya menyatakan CATIB akan memasok baterai kendaraan listrik sekaligus energy storage system (ESS). Pabrik tersebut memang dirancang untuk memproduksi baterai LFP dan berbasis nikel, tetapi produksi awal lebih mengutamakan LFP.
Bagi IBC, pembangunan fasilitas material baterai menjadi tahap berikutnya untuk memperbesar integrasi rantai pasok NMC di dalam negeri. Setelah fasilitas itu beroperasi, material yang dihasilkan diharapkan dapat diserap oleh pabrik baterai Karawang sehingga bauran NMC dapat meningkat.
Hal ini membuat pabrik Karawang tidak sekadar menjadi fasilitas perakitan sel, modul, dan paket baterai, tetapi menjadi simpul permintaan bagi proyek midstream—pengolahan bahan mineral menjadi bahan kimia baterai dan material aktif katoda—yang sedang disiapkan IBC.
Ekspor Serap Produksi Awal
Pada fase awal, produksi baterai CATIB lebih banyak dialokasikan untuk pasar ekspor. Aditya mengatakan pasar domestik tetap menjadi tujuan, tetapi volumenya masih minoritas karena pertumbuhan permintaan baterai kendaraan listrik nasional belum setinggi pasar luar negeri.
“Pabrikan yang ini? Ekspor yang jelas. Kalau offtaker-nya kami belum bisa disclose secara spesifik ya, tapi yang jelas untuk market ekspor,” ujar Aditya.
“Lokal ada, tapi minoritas memang, masih sangat minoritas. Oleh karena itu kita juga encourage semoga ada pertumbuhan market dalam negeri juga bisa lebih baik lagi gitu,” lanjutnya.
IBC telah mengamankan calon pembeli untuk produksi pabrik CATIB, tetapi belum membuka identitas offtaker maupun negara tujuan pengapalan awal lantaran terikat perjanjian kerahasiaan dengan mitra.
Dalam forum Big Strategic Forum, Aditya sebelumnya menyebut India sebagai salah satu pasar potensial di luar China. Menurut dia, baterai NMC asal Indonesia memiliki keunggulan biaya pengiriman hingga tiba di India atau landed cost dibandingkan produk asal China. Brasil juga dinilai menarik seiring meningkatnya pengembangan pembangkit surya dan angin yang membutuhkan sistem penyimpanan energi.
Namun, India dan Brasil masih merupakan negara yang dibidik IBC. IBC belum mengonfirmasi bahwa keduanya menjadi tujuan pengapalan perdana dari pabrik Karawang.
Dorong Serapan Lokal
IBC mendorong penerapan kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga ke level baterai untuk memperkuat permintaan domestik. Aditya menyebut ketentuan TKDN untuk kendaraan listrik telah ada, tetapi belum diterapkan secara khusus pada baterai.
Baca Juga: Hadapi Regulasi Karbon Ketat Eropa, IBC Targetkan Solar PV Beroperasi 2027
Baca Juga: IBC Bidik India dan Brasil Jadi Pasar Utama Baterai
“Kalau misalnya nanti, sebetulnya kalau di dalam Perpres 55 kan sudah tertuang ya kewajiban TKDN, kalau memang itu nanti bisa diaplikasikan sampai ke baterai, insyaallah sih kami optimis itu bisa membantu boost permintaan baterai kita. Tapi untuk saat ini kami melihat masih belum gitu,” kata Aditya.
IBC tengah berdiskusi dengan pemerintah terkait penerapan TKDN baterai, termasuk bagi battery energy storage system (BESS). Pengaturan tersebut dinilai dapat menciptakan kepastian pasar dalam negeri bagi produk baterai yang dihasilkan CATIB.
Ekspansi dan Daur Ulang
Selain memperbesar kapasitas Proyek Dragon di Karawang, IBC juga melanjutkan pembahasan studi kelayakan Proyek Titan bersama mitra. Aditya mengatakan IBC telah menyampaikan rencana ekspansi Proyek Dragon kepada pemerintah.
Untuk pengelolaan baterai pada akhir masa pakai, IBC menargetkan pengembangan bisnis battery recycling sekitar 2030 melalui skema joint venture dan pembentukan anak usaha. Saat ini, IBC masih berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, untuk menyiapkan regulasi daur ulang baterai.
Langkah tersebut menunjukkan strategi IBC yang bergerak dari produksi awal berbasis LFP, peningkatan penggunaan material NMC dalam negeri, perluasan kapasitas produksi, hingga pembangunan ekosistem daur ulang baterai.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: