Dedi Mulyadi dan Gibran Diwacanakan Maju Pilpres, Budi Arie Sebut Mirip Gaya Jokowi
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Wacana pasangan Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk pemilihan umum mendatang mulai mencuri perhatian. Perbincangan tersebut mengemuka setelah sebuah video relawan yang mengampanyekan duet KDM-Gibran beredar ke ruang publik.
Kemunculan video itu dinilai Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno bukan sekadar peristiwa biasa. Ia melihatnya sebagai bagian dari tes ombak sekaligus manuver politik yang mulai memperlihatkan dinamika di lingkaran kekuasaan.
Dalam podcast di kanal Akbar Faizal Uncensored pada 3 September 2026, Adi mengaitkan kemunculan video tersebut dengan narasi yang sebelumnya disampaikan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi.
“Satu sisi ada retakan sejarah yang disampaikan oleh Bang Budi, satu sisi ada relawan yang ngomong 2029 KDM sama Wapres yang sekarang. Bagi saya ini bukan sesuatu yang sederhana,” ujar Adi.
Menurut dia, kemunculan dua narasi tersebut menjadi sinyal bahwa kongsi politik di internal kekuasaan mulai menunjukkan dinamika baru.
“Adalah satu sinyal man betapa kongsi-kongsi politik di internal ini sudah mulai bermunculan dan saling mengeras satu sama yang lain,” tegasnya.
Di tengah munculnya wacana duet tersebut, Budi Arie Setiadi tidak menampik adanya kemiripan gaya politik antara KDM dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Budi Arie menilai pendekatan politik KDM memiliki kedekatan dengan gaya Jokowi yang dinilai banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Dan kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian rakyat rakyat bicara padanya mendekati rakyat begitu loh,” ujar Budi Arie.
Ia juga menilai gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat memiliki modal politik tersendiri. Menurut Budi Arie, masyarakat masih membutuhkan pendekatan populisme yang dinilai dimiliki KDM.
“Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM,” paparnya.
Meski wacana duet KDM-Gibran mulai muncul ke ruang publik, Adi Prayitno justru mempertanyakan kemungkinan KDM menerima skenario tersebut.
Menurut Adi, posisi KDM saat ini berada di bawah naungan Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, ia menilai terdapat batasan politik yang perlu diperhitungkan KDM jika wacana tersebut berkembang lebih jauh.
“Cuman kan problemnya apakah KDM mau? Kalau saya yang awam dan polos dalam politik rasa-rasanya enggak mau, Bang,” ungkap Adi.
Baca Juga: Projo Siapkan Sikap Jika Jokowi Tak Lagi Diajak Prabowo, Ini Kata Budi Arie
Ia menilai KDM, meski kerap muncul secara signifikan dalam survei, tidak berada dalam posisi untuk berhadapan dengan Prabowo Subianto.
“KDM sekalipun selalu muncul secara signifikan di survei tapi tidak dalam posisi fis tidak dalam posisi harus dihadap-hadapkan dengan Pak Prabu Subianto. Ini satu perahu Bang, satu partai, Bang,” pungkasnya.
Menurut Adi, posisi KDM dalam satu partai dan satu perahu politik dengan Prabowo menjadi faktor penting yang dapat membatasi kemungkinan KDM mengambil posisi berseberangan dalam kontestasi politik mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: