Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih melihat peluang untuk melanjutkan perbaikan kinerja pada paruh kedua 2026. Namun, perseroan tidak bisa semata-mata mengejar peningkatan profitabilitas dengan menaikkan harga jual, mengingat daya beli konsumen masih menjadi tantangan.
Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan peningkatan laba pada dasarnya dapat didorong melalui kenaikan harga jual. Namun, langkah tersebut berisiko membuat produk Gudang Garam menjadi lebih mahal dibandingkan rokok dari produsen lain.
"Sehingga kalau hanya memperbaiki profitability, itu jawabannya tadi menaikkan harga. Namun, akibatnya kita menjadi rokok paling mahal sesaat. Kecuali kenaikan harga tersebut juga diikuti oleh produsen rokok (lain) sekelas GGRM," ujar Heru dalam press conference Public Expose Live 2026, Jakarta Kamis (10/9/2026).
Pertimbangan tersebut tidak terlepas dari tekanan volume industri rokok. Secara keseluruhan, volume penjualan industri rokok tercatat turun 6,8%.
Di pasar yang digarap Gudang Garam, Sigaret Kretek Mesin (SKM) masih menjadi segmen terbesar dengan pangsa 62,2%. Sementara itu, Sigaret Kretek Tangan (SKT) memiliki pangsa 33,4% dan segmen non-kretek sebesar 4,3%.
Tekanan volume terjadi di seluruh segmen pada semester I-2026. Penjualan SKT turun 2,9% menjadi 35,1 miliar batang dari 36,2 miliar batang. Penjualan SKM turun lebih dalam, yakni 8,8% menjadi 65,4 miliar batang dari 71,7 miliar batang. Sementara volume segmen non-kretek turun 7,2% menjadi 4,6 miliar batang dari 4,9 miliar batang.
Alhasil, total volume penjualan Gudang Garam turun menjadi 105,1 miliar batang dari sebelumnya 112,8 miliar batang.
Menurut Heru, tekanan daya beli konsumen juga tidak terlepas dari kenaikan cukai pada periode 2020-2024, terutama bagi produsen SKM Tier 1. Kondisi tersebut mendorong sebagian konsumen berpenghasilan menengah ke bawah beralih ke produk yang lebih murah, termasuk SKT dan rokok yang tidak memenuhi ketentuan cukai.
"Dampak dari tren pergeseran konsumsi ke rokok yang lebih murah tersebut paling nyata dirasakan produsen Tier 1," tutur Heru.
Tekanan volume tersebut turut berdampak pada pendapatan Gudang Garam. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan turun 7,2% menjadi Rp41,7 triliun dari Rp44,37 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi volume penjualan yang merosot 13,6%.
Meski pendapatan tertekan, laba bersih Gudang Garam justru melonjak 2.440,2% menjadi Rp2,98 triliun dari sebelumnya Rp117,16 miliar.
Heru menjelaskan, lonjakan laba tersebut ditopang oleh sejumlah langkah efisiensi dan penyesuaian harga jual yang dilakukan secara bertahap sejak paruh kedua 2025 hingga awal 2026.
Baca Juga: GGRM vs HMSP: Siapa Paling Cuan di Semester I-2026?
Baca Juga: Gudang Garam Setop Capex Bandara Dhoho, Siapkan Rp2 Triliun untuk Jalan Tol
Baca Juga: Gudang Garam Suntik Ratusan Miliar ke Bandara Ini
Penurunan volume penjualan juga berdampak pada turunnya beban cukai, PPN, dan pajak rokok sebesar 14%. Kondisi tersebut membantu meningkatkan margin laba bruto Gudang Garam dari 8,5% menjadi 14,5%.
Selain itu, perseroan berhasil memangkas beban usaha sebesar 33,8%. Beban bunga juga menurun seiring dengan berkurangnya tingkat pinjaman.
“Faktor-faktor tersebut di atas berkontribusi terhadap peningkatan laba Perseroan,” ujarnya.
Neraca Ikut Menguat
Perbaikan kinerja juga tercermin dari struktur neraca Gudang Garam. Total aset perseroan turun 2,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan persediaan dari Rp37,034 triliun menjadi Rp31,763 triliun.
Penurunan persediaan sejalan dengan berkurangnya pembelian bahan baku akibat volume penjualan yang lebih rendah. Aset tetap juga turun 10,2% dari Rp21,196 triliun menjadi Rp19,031 triliun.
Di sisi liabilitas, total kewajiban perseroan turun 26,4%. Penurunan tersebut antara lain didorong oleh berkurangnya pinjaman jangka pendek sebesar Rp5,205 triliun. Utang cukai juga turun 6%, sejalan dengan penurunan volume penjualan.
Perbaikan struktur keuangan tersebut tercermin dari rasio gearing Gudang Garam yang turun dari 30,7% menjadi 21,5%.
Sementara itu, pemegang saham Gudang Garam dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Juni 2026 menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp800 per saham.
Total dividen yang dibagikan mencapai Rp1,539 triliun dan telah disalurkan kepada pemegang saham pada Juli 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: