Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Asuransi Astra Bidik 80% Klaim Diproses AI, Fraud Jadi Sasaran Utama

        Asuransi Astra Bidik 80% Klaim Diproses AI, Fraud Jadi Sasaran Utama Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra) mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi potensi kecurangan (fraud) dalam proses klaim, terutama pada asuransi kesehatan.

        Technical & Operation Director Asuransi Astra Mulia K. B. Siregar mengatakan AI dikembangkan untuk mengenali pola klaim berulang berdasarkan data diagnosis, tindakan pengobatan, obat, hingga tagihan yang tercatat dalam basis data perusahaan.

        “Jadi nanti dengan misalnya di asuransi kesehatan, dengan diagnosis tertentu dari database kita, kita bisa tahu treatment apa yang dilakukan, obat apa yang diberikan, seperti apa tagihan yang masuk dari customer,” kata Mulia dalam media conference “Transformation Beyond The Screen”, Jumat (11/9/2026).

        Menurut Mulia, digitalisasi proses klaim kesehatan menjadi salah satu pendukung pengembangan sistem deteksi fraud. Pada layanan Garda Medika, misalnya, pengajuan klaim telah dapat dilakukan secara daring melalui aplikasi dengan mengunggah dokumen yang diperlukan.

        Dokumen dan data tersebut kemudian dapat diperiksa sistem untuk mengidentifikasi pola klaim yang berpotensi berulang. Pemeriksaan antara lain mencakup kesamaan jumlah klaim dan tanggal pengajuan dengan klaim yang pernah diajukan sebelumnya.

        “Itu juga bisa di-cek dan kita sedang kembangkan AI-nya untuk mendeteksi adanya fraud. Apakah jumlah yang sama, tanggal yang sama, sudah pernah diklaimkan pada masa yang lalu. Jadi tanpa harus mata manusia melihatnya,” ujarnya.

        Asuransi Astra menargetkan sekitar 70 persen hingga 80 persen proses klaim nantinya dapat dilakukan melalui straight-through process tanpa intervensi manusia. Sementara itu, klaim yang tidak memenuhi kriteria akan dikeluarkan dari proses otomatis untuk diperiksa lebih lanjut oleh petugas.

        “Harapan kita adalah bahwa dengan penggunaan AI ini, menggunakan OCR (Optical Character Recognition), sebagian besar dari proses kita akan straight-through process. Hanya yang tidak memenuhi itu yang akan keluar dari proses,” kata Mulia.

        Teknologi serupa sebelumnya telah diterapkan dalam proses pembelian asuransi kendaraan bermotor. Dengan bantuan Optical Character Recognition (OCR), data dari KTP dan STNK dapat diekstraksi secara otomatis ke dalam basis data perusahaan.

        Baca Juga: Masyarakat Masih Enggan Pakai Asuransi Kredit Pinjol, Harga Premi Dinilai Kemahalan

        Baca Juga: ​Kalah dari Singapura hingga Filipina, Penetrasi Asuransi RI Tertinggal di ASEAN

        Baca Juga: OJK Kejar KAPJ, Semua Perusahaan Asuransi Ditargetkan Terintegrasi 2026

        Mulia mengatakan penerapan teknologi tersebut memangkas proses pembelian asuransi kendaraan bermotor dari 16 tahapan menjadi dua langkah.

        Saat ini, pengembangan sistem deteksi fraud untuk klaim masih berada dalam tahap pengujian. Mulia mengatakan akurasi sistem untuk sebagian klaim yang sedang diuji telah mendekati 80 persen.

        “Untuk sebagian klaim yang sedang kami kerjakan, akurasinya sudah mendekati 80%. Kami berharap bahwa dalam tahun ini kami boleh memperoleh kemajuan yang berarti dan mungkin itu akan menjadi bahan launching salah satunya di tahun depan,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: