Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Shell Jadikan Indonesia Basis Produksi Grease, Kapasitas 12.000 Ton Setahun

        Shell Jadikan Indonesia Basis Produksi Grease, Kapasitas 12.000 Ton Setahun Kredit Foto: Kemenperin
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia mulai mengurangi ketergantungan impor produk grease atau gemuk pelumas setelah Shell mengoperasikan fasilitas produksi baru di Marunda, Bekasi. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 12.000 ton grease per tahun.

        Pabrik yang bernama Shell Grease Manufacturing Plant (GMP) Marunda itu diresmikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Selasa (15/9/2026).

        Kehadiran fasilitas ini berpotensi mengubah pola pasokan produk grease Shell di pasar domestik. Sebelumnya, sebagian produk dengan merek Shell Gadus masih didatangkan dari luar negeri.

        Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, impor Indonesia untuk produk grease dengan kode HS 27101944 mencapai sekitar 22.377 ton sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, produk grease Shell Gadus menyumbang sekitar 11.757 ton.

        Dengan beroperasinya GMP Marunda, kebutuhan tersebut kini dapat dipenuhi melalui produksi di dalam negeri.

        "Investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri," kata Agus saat peresmian GMP Marunda.

        Menurut Agus, investasi manufaktur seperti ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas produksi. Pemerintah juga melihat peluang yang lebih besar melalui peningkatan nilai tambah, penggunaan industri pendukung lokal, hingga substitusi produk impor.

        Kapasitas Produksi 12.000 Ton per Tahun

        Fasilitas grease tersebut melengkapi basis manufaktur pelumas Shell yang sebelumnya sudah beroperasi di Marunda.

        Shell telah mengembangkan Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) pada 2022. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi pelumas hingga 300 juta liter per tahun.

        Sementara GMP Marunda menambah kemampuan produksi grease sebanyak 12.000 ton per tahun.

        Agus mengatakan, berdasarkan data Shell, fasilitas tersebut masuk dalam tiga besar pabrik grease Shell secara global dari sisi kapasitas.

        "Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pengembangan kegiatan manufaktur Shell," ujarnya.

        Keberadaan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat rantai pasok industri pelumas di Indonesia. Shell saat ini telah melibatkan lebih dari 50 vendor domestik dengan nilai pengadaan sekitar Rp30 miliar per tahun.

        Kementerian Perindustrian berharap penggunaan pemasok lokal dapat diperluas, termasuk untuk bahan baku, kemasan, hingga jasa industri.

        "Keterlibatan vendor domestik menjadi fondasi yang baik untuk membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat di dalam negeri," kata Agus.

        Baca Juga: Kemenperin: Investasi Industri EV Tembus Rp30,4 Triliun dan Serap 40 Ribu Tenaga Kerja

        Baca Juga: Kemenperin Dorong Kawasan Industri di Daerah Segera Kantongi IUKI

        Baca Juga: Mobil China Sudah Banjiri Pasar, DPR Tantang Kemenperin Bangun Mobil Listrik Nasional

        Indonesia Dibidik Jadi Basis Produksi Regional

        Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, pemerintah melihat peluang GMP Marunda untuk dikembangkan sebagai salah satu basis produksi grease Shell untuk pasar kawasan.

        Agus menilai posisi Indonesia yang memiliki basis manufaktur dan pasar domestik besar dapat menjadi modal untuk mengembangkan produksi yang tidak hanya ditujukan untuk konsumen dalam negeri.

        "Kita mulai dari Indonesia, memperkuat Indonesia, dan pada saatnya membawa produk yang dibuat di Indonesia ke pasar regional dan global," ujarnya.

        Investasi tersebut juga datang ketika industri pengolahan nonmigas masih mencatat pertumbuhan positif. Pada kuartal II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

        Bagi pemerintah, masuknya investasi pada fasilitas manufaktur baru diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi. Dampak yang lebih luas diharapkan muncul melalui tumbuhnya industri pendukung, meningkatnya penggunaan produk lokal, serta berkurangnya ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

        GMP Marunda juga menerapkan sejumlah teknologi manufaktur modern dan proses otomatisasi untuk mendukung produktivitas dan konsistensi mutu.

        Di sisi lain, fasilitas manufaktur Shell di Marunda juga telah menggunakan sejumlah teknologi untuk mengurangi penggunaan energi dan air. Area LOBP, misalnya, memanfaatkan panel surya yang menghasilkan sekitar 1,1 juta kWh listrik per tahun atau sekitar 17 persen dari kebutuhan listrik di area tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: