Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ledakan AI Bikin AS Ketar-ketir, Harus Siapkan US$110 Miliar untuk Kejar Listrik

        Ledakan AI Bikin AS Ketar-ketir, Harus Siapkan US$110 Miliar untuk Kejar Listrik Kredit Foto: PLN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ledakan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat (AS) mendorong lonjakan kebutuhan listrik yang berpotensi melampaui kemampuan jaringan dalam menyediakan kapasitas pembangkit, transmisi, dan koneksi baru.

        Laporan Moody's Ratings memperkirakan konsumsi listrik pusat data di AS mencapai sekitar 426 terawatt-hour (TWh) per tahun pada 2030, hampir dua kali lipat dibandingkan 224 TWh pada 2025. Angka tersebut setara sekitar 10% dari total permintaan listrik AS.

        Untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut, AS membutuhkan sekitar 45 gigawatt (GW) kapasitas pembangkitan baru. Investasi yang diperlukan untuk membangun kapasitas tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$110 miliar.

        Namun, tambahan pembangkit juga akan meningkatkan biaya sistem kelistrikan. Moody's memperkirakan kebutuhan tersebut dapat menambah biaya sistem sekitar US$25 miliar hingga US$30 miliar per tahun.

        Persoalan pasokan listrik tidak berhenti pada pembangunan pembangkit. Infrastruktur transmisi dan proses interkoneksi jaringan juga menjadi kendala bagi ekspansi pusat data di sejumlah wilayah AS.

        Moody's mencatat antrean interkoneksi jaringan listrik di beberapa wilayah dapat mencapai lima hingga tujuh tahun. Kondisi tersebut berpotensi membuat pembangunan pusat data selesai lebih cepat dibandingkan kesiapan pasokan listrik yang diperlukan untuk mengoperasikannya.

        Organisasi transmisi regional memperkirakan pembangunan jaringan transmisi dalam beberapa dekade mendatang membutuhkan investasi sekitar US$100 miliar. Adapun investasi transmisi sekitar US$80 miliar hingga US$115 miliartelah disetujui atau sedang berjalan hingga 2030.

        Untuk memasok kebutuhan listrik pusat data baru, pembangkit listrik konvensional diperkirakan menyumbang sekitar 70% tambahan kebutuhan listrik hingga 2030. Sementara itu, sekitar 30% sisanya berasal dari pembangkitan di belakang meteran atau behind-the-meter (BTM).

        Mengutip International Energy Agency, Moody's mencatat gas alam saat ini menjadi sumber listrik terbesar bagi pusat data AI di AS, dengan pangsa lebih dari 40%.

        Pemerintah AS juga mendorong pengembangan pembangkit berbasis gas alam serta reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR). Namun, pembangunan pembangkit nuklir baru diperkirakan belum memberikan tambahan kapasitas signifikan sebelum 2035.

        Di sisi lain, lonjakan permintaan listrik pusat data juga menimbulkan persoalan keterjangkauan bagi konsumen. Keterbatasan pasokan dan meningkatnya kebutuhan listrik berpotensi mendorong kenaikan tagihan listrik.

        Karena itu, regulator memperketat mekanisme persetujuan proyek dan struktur tarif. Penyedia layanan hyperscaler juga didorong memberikan pembayaran di muka, pembayaran minimum bulanan, serta jaminan terkait penghentian kontrak lebih awal.

        Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko pelanggan listrik lainnya ikut menanggung biaya pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk melayani pusat data.

        Moody's juga mencatat adanya risiko kelebihan pembangunan apabila kebutuhan komputasi AI di masa depan tidak tumbuh sesuai proyeksi. Peningkatan efisiensi mikrochip dan perkembangan teknologi alternatif, termasuk konsep pusat data di luar angkasa, dapat mengubah kebutuhan kapasitas listrik.

        Baca Juga: Peneliti OpenAI Habiskan Token AI hingga Rp123,8 Juta Sehari

        Baca Juga: Investasi Data Center AI Rp82 Triliun Masuk Batang, Jawa Tengah Bidik Industri Teknologi Tinggi

        Baca Juga: Bukan Sekadar Tambah Storage, AI Memaksa Perusahaan Benahi Infrastruktur Data

        Meski demikian, Moody's memperkirakan investasi infrastruktur yang dikelola secara efektif pada akhirnya dapat memperkuat keandalan jaringan listrik. Penambahan kapasitas pembangkit dan transmisi dinilai dapat mengurangi tekanan pasokan serta membantu menekan risiko kenaikan harga listrik ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem.

        Wakil Presiden sekaligus Senior Credit Officer Moody's Ratings Ram S. mengatakan perkembangan AI mendorong perusahaan teknologi terbesar beralih ke model bisnis yang semakin padat aset melalui ekspansi pusat data.

        “AI sedang membentuk kembali lanskap industri teknologi, dengan beberapa perusahaan terbesar beralih ke model yang padat aset yang didorong oleh AI dan perluasan pusat data,” kata Ram S.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: