Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Membangun Data Center AI, Bukan Industri AI

Oleh: Jack Dalimun - Praktisi Teknologi Digital

Indonesia Membangun Data Center AI, Bukan Industri AI Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gelombang investasi teknologi terbaru di Indonesia tidak lagi dihitung dari valuasi startup, melainkan dari megawatt. Microsoft menjanjikan investasi US$1,7 miliar untuk cloud dan AI. CoreWeave menyiapkan tiga fasilitas dengan kapasitas total 360 megawatt dan kontrak hingga 170 ribu accelerator NVIDIA. Pada paruh pertama 2026, pipeline data center Jakarta telah mencapai 1.699 megawatt.

Angka-angka itu menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar data center penting. Namun, skala investasi bukan ukuran utama. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah Indonesia sedang membangun industri AI sendiri atau sekadar menyediakan ruang, listrik, dan tenaga teknis bagi teknologi milik perusahaan asing.

Data strategis memang dapat disimpan di dalam negeri, tetapi ketergantungan akan tetap ada selama chip, arsitektur model, software stack, dan roadmap produk dikendalikan dari luar. Dalam situasi seperti itu, Indonesia memiliki infrastrukturnya, bukan teknologinya.

Pelajaran dari Era Unicorn

Kita pernah menyaksikan pola serupa pada era unicorn. GoTo sempat bernilai sekitar US$29 miliar. Pada Agustus 2026, kapitalisasinya menyusut menjadi US$3,2 miliar dan harga sahamnya tertahan di batas bawah bursa, Rp50.

Bukalapak menghimpun US$1,5 miliar lewat IPO terbesar pada masanya, lalu menghentikan penjualan barang fisik di marketplace-nya sendiri. Produknya bekerja dan pasarnya tumbuh, tetapi posisi bisnisnya rapuh ketika subsidi berhenti.

Skala ternyata mudah dikejar dan tidak otomatis menjadi keunggulan yang bertahan. Di sinilah paradoksnya: revolusi teknologi yang nyata dapat menopang teori nilai yang keliru selama bertahun-tahun, menguntungkan para pendukungnya, lalu runtuh ketika disiplin ekonomi kembali berlaku.

Startup dan data center tentu berbeda. Namun, keduanya dapat keliru dibaca dengan cara yang sama: menganggap besarnya modal sebagai bukti penguasaan teknologi.

Kosakatanya berganti dari GMV menjadi megawatt, tetapi logika sulapnya belum berubah.

Data Berdaulat Belum Tentu Teknologi Berdaulat

Lintasarta memasarkan GPU Merdeka sebagai sovereign AI cloud, meski layanan tersebut hanya merupakan NVIDIA Cloud Partner dan berjalan di atas silikon NVIDIA. Sahabat-AI, sebuah model bahasa, dibangun melalui continued pre-training Llama 3 dengan 32 GPU NVIDIA H100.

Tidak ada yang keliru dari kerja sama semacam ini. Kekeliruannya muncul ketika penyimpanan data di dalam negeri disamakan dengan kedaulatan teknologi.

Yang pertama adalah kedaulatan data; yang kedua menuntut penguasaan atas teknologi inti.

Polanya menyerupai industri rakitan: komponen utama diimpor, dirakit, lalu diberi merek lokal. Label “nasional” pada casing tidak mengubah isi perangkat.

Aliran keuntungannya pun memperjelas posisi tawar. Pada kuartal yang berakhir 26 Juli 2026, bisnis data center menyumbang lebih dari 92% pendapatan NVIDIA sebesar US$96,2 miliar, dengan margin kotor 75%.

Operator lokal menyediakan lahan, listrik, dan beton. Vendor teknologi memasok komponen langka yang sulit digantikan sekaligus mempertahankan tiga perempat harganya sebagai margin.

Indonesia dapat menjadi hub AI yang efisien, seperti Singapura. Namun, menjadi hub AI dan berdaulat secara teknologi adalah dua strategi yang berbeda. Retorikanya menjanjikan yang kedua, sedangkan struktur investasinya lebih dekat pada yang pertama.

Ketika Permintaan Besar Tidak Menjamin Laba

Permintaan komputasi AI memang nyata. IEA memperkirakan konsumsi listrik data center global hampir berlipat ganda pada 2030.

Namun, permintaan yang besar tidak menjamin laba yang tebal. Setelah gelembung dot-com pecah, penggunaan internet justru melonjak, sementara banyak perusahaan yang telanjur membangun jaringan serat optik secara berlebihan bangkrut.

Teknologinya menang; pemilik kapasitas tanpa diferensiasi kalah.

Risiko yang sama dapat muncul ketika seluruh operator menawarkan GPU dan layanan serupa. Persaingan kemudian menyusut menjadi perang tarif listrik dan biaya modal, watak bisnis utilitas, bukan ekonomi teknologi proprietary.

Ada pula ketimpangan umur aset. Gedung data center bertahan puluhan tahun, sedangkan chip di dalamnya berganti setiap dua atau tiga tahun. Kampus yang dibiayai dengan asumsi sewa GPU jangka panjang dapat usang justru ketika ledakan AI mencapai puncak.

Bukan karena AI gagal, melainkan karena teknologinya berkembang lebih cepat daripada jadwal pelunasan utang.

Indonesia sedang menanam modal pada aset berumur 15–20 tahun sambil bertaruh pada satu model komputasi yang berbasis darat, padat GPU, dan bergantung pada jaringan listrik. Padahal, pola permintaan, siklus perangkat keras, dan geografi komputasi terus berubah.

Taruhan ini juga dibuat dari posisi pendatang belakangan, ketika pipeline Johor telah melampaui tiga gigawatt.

Listrik Adalah Bagian dari Produk

Dalam bisnis ini, listrik bukan sekadar biaya operasional; listrik adalah bagian dari produknya.

Sekitar 68% pasokan listrik Indonesia masih berasal dari batu bara, sedangkan porsi energi terbarukan baru mencapai 15,75% pada 2025. Target 23% pun dilonggarkan menjadi 19–23% dan diundur ke 2030.

Indonesia memiliki pasokan, tetapi pasokan itu masih kotor.

Masalahnya bukan hanya lingkungan, melainkan juga daya saing. Hyperscaler yang membiayai kampus-kampus tersebut membawa komitmen energi bersih, sementara akses terhadap pasokan hijau langsung di Indonesia masih terbatas.

Banyak janji green data center akhirnya bertumpu pada pembangkit yang baru direncanakan, bukan listrik bersih yang sudah dikontrak dan benar-benar mengalir.

Tanpa pasokan yang pasti, bersih, dan khusus, kampus berkapasitas ratusan megawatt berisiko menjadi aset mangkrak yang tetap dipasarkan sebagai kisah pertumbuhan.

Jangan Berhenti Membangun, Tetapi Ubah Ukuran Keberhasilan

Semua itu bukan alasan untuk berhenti membangun. Negara berpenduduk hampir 300 juta jiwa memang membutuhkan kapasitas komputasi sendiri.

Namun, gedung hanyalah sarana, bukan hasil akhir.

Yang menjadi permasalahan adalah kepemilikan atas teknologi yang sulit ditiru: desain akselerator, compiler, database, serta model industri berbasis data yang sukar disalin dan layak dilisensikan ke pasar global.

Karena itu, keberhasilan AI Indonesia seharusnya tidak diukur dari jumlah data center yang berdiri, tetapi dari jumlah teknologi Indonesia yang lahir di atas infrastruktur tersebut.

Pelajaran era unicorn bukan bahwa Indonesia harus mengurangi ambisi. Pelajarannya adalah bahwa pasar yang tumbuh pesat tidak otomatis membuat kita menguasai lapisan teknologi yang paling bernilai.

Data center dapat penuh dan investasi dapat terus mengalir, sementara satu dekade kemudian teknologi yang paling sulit digantikan tetap dimiliki perusahaan asing.

Jika itu terjadi, data center-nya tidak gagal; strategi industrinya yang gagal.

Kali ini, tanda peringatannya muncul sebelum beton selesai dituang.

Maka, pertanyaan yang semestinya diajukan bukan berapa banyak data center AI yang dapat dibangun Indonesia, melainkan: ketika seluruh kapasitas itu terisi, teknologi apa yang benar-benar dimiliki Indonesia?

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri