Kredit Foto: BPMI
Gestur Presiden Prabowo Subianto terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat peringatan HUT ke-81 TNI kembali memicu spekulasi soal hubungan keduanya. Momen ketika Prabowo tidak terlihat menyalami Jokowi usai sesi foto bersama bahkan ditafsirkan sebagai tanda keretakan hubungan politik.
Spekulasi itu salah satunya muncul dari sebuah akun X @Sadewa yang menyinggung dugaan permusuhan antara Prabowo dan Jokowi.
"Breaking news, Prabowo sudah terang-terangan musuhi Jokowi," tulisnya di akun X.
"Kemarin Gibran dicuekin dan nggak disalami, hari ini Jokowi yang dicuekin dan nggak disalami Prabowo," ujarnya.
"Termul makin menderita," imbuhnya.
Baca Juga: Kapolri Suyudi Ditantang Buktikan Hukum Tak Tebang Pilih, Jokowi Disinggung
Momen yang menjadi sorotan tersebut terjadi setelah sesi foto bersama dalam peringatan HUT ke-81 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026). Dalam sesi tersebut, Prabowo, Jokowi, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut hadir.
Dalam potongan video yang beredar luas di media sosial, Prabowo terlihat berbalik setelah sesi foto, kemudian berbincang serta menyalami SBY dan Komandan Upacara. Sementara itu, Prabowo tidak terlihat mengulurkan tangan atau menyalami Jokowi yang berada di sisi lainnya.
Namun, rangkaian momen tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya permusuhan. Sebelum acara dimulai atau saat tiba di lokasi upacara, Prabowo sempat memberikan salam hormat dan berjabat tangan dengan Jokowi.
Postingan yang menyinggung dugaan Prabowo mulai memusuhi Jokowi itu kemudian mendapat respons dari kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka.
Baca Juga: Gegara Sikap Gibran, Hubungan antara Jokowi dengan Prabowo Diduga Retak
Dedy menilai kesimpulan bahwa Prabowo terang-terangan memusuhi Jokowi hanya didasarkan pada perasaan dan bukan fakta yang menunjukkan hubungan keduanya telah retak.
"Ini perasaan @Sadewa_ saja," ungkapnya di akun X.
"Asumsi "Prabowo sudah terang-terangan memusuhi Jokowi" adalah asumsi yang berdasarkan perasaan, faktanya mereka masih bisa berjalan bersama," lanjut Dedy.
Menurut Dedy, hubungan baik antara para pemimpin negara justru penting untuk menjaga kekuatan bangsa. Ia berharap para presiden Indonesia dapat tetap bersatu.
"Bangsa ini akan lebih kuat dan bertenaga jika Presiden-Presidennya bersatu," sebutnya.
Dedy kemudian menyinggung keberadaan seorang mantan presiden yang menurutnya sudah enggan diajak hadir dalam kegiatan tertentu.
"By the way, ada mantan Presiden yang mungkin sudah malas diajak, karena saat diajak beliau memilih untuk tidak hadir dengan beragam alasan," imbuh Dedy.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: