Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Melihat Potensi Ekonomi Masyarakat Tengger

Melihat Potensi Ekonomi Masyarakat Tengger Kredit Foto: Agus Aryanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Berdiri di Bukit Kingkong pukul 02.00 WIB dengan suhu 15 derajat celcius membuat tubuh bergetar kedinginan. Beruntung ada mie rebus, kopi hangat, jaket tebal dan kursi plastik yang dijajakan masyarakat Tengger di lereng Gunung Bromo, membuatku tetap bertahan menunggu Sun Rice.?

Suasana baru menghangat pukul 05.00 WIB ketika matahari mengintip menyuguhkan dua mahakarya alam, matahari terbit dari sebelah kiri dan pemandangan Gunung Bromo dengan latar Gunung Semeru yang sedang aktif. Setelah puas mengabadikan momen itu, mobil Jip yang membawaku ke titik itu turun ke Kaldera lautan pasir seluas 10 kilometer, tepat di kaki Gunung Bromo.?

Dari sini ke bibir kawah tinggal 1,5 kilometer, namun berjalan kaki cukup melelahkan karena medan pasir dan menanjak. Untuk mempercepat perjalanan bisa menunggang kuda yang disediakan masyarakat di sana. Perjalanan selanjutnya adalah Pasir Berbisik hamparan pasir yang sangat luas, dan Bukit Teletubies perbukitan hijau tepat di balik Gunung Bromo.?

Demikian sepenggal cerita perjalanan Outing dan Media Gathering BCA ke Malang Jawa Timur pertengahan bulan November 2017 lalu. Perjalanan itu tidak hanya memberikan pengalaman tak terlupakan tapi juga memberi sebuah inspirasi. Sebab sepanjang perjalanan kami juga diiringi ceita rakyat Roro Anteng dan Joko Seger yang melegenda, dan keturunannya yang kini dikenal dengan Masyarakat Tengger.?

Diceritakan, dahulu kala ada seorang perempuan cantik keturunan Raja Majapahit bernama Roro Anteng yang menikah dengan seorang pemuda gagah keturunan dari kalangan Brahmana sederhana bernama Joko Seger. Mereka dikaruniai 25 orang anak, namun anak terakhir mereka harus menjadi persembahan di Kawah Gunung Bromo karena sumpah yang mereka ucapkan.?

Upacara persembahan itu kini dikenal dengan Upacara Kasada yang dilakukan setiap Bulan Kasada hari ke-14 dalam Penanggalan Jawa. Dalam upacara tersebut masyarakat Tengger akan beramai-ramai mendatangi Gunung Bromo untuk memberikan sesajen, seperti dilakukan oleh Roro Anteng dan Joko Seger beserta masyarakat saat mengiringi Raden Kusuma menyeburkan diri ke dalam kawah.?

Upacara Kasada telah menjadi upacara tahunan yang menyedot wisatawan lokal dan manca. Di luar acara itu juga tidak sedikit wisatawan yang berkunjung. Sepanjang tahun tidak kurang dari 350 ribu wisatawan lokal dan 37 ribu wisatawan manca mengunjungi kawasan yang kini dilestarikan dengan nama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).?

Heri, tour gaet yang memandu perjalanan kami juga mengatakan, masyarakat Tengger mendiami kawasan sekitar Gunung Bromo yang meliputi empat kabupaten, yakni Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Jumlah penduduknya saat ini sekitar 500 ribu jiwa.?

Mata pencaharian utama masyarakat di sana bertani sayur, seperti kentang, sawi, wortel, daun bawang, kol, kol putih, buah apel dan lainnya. Untuk menjual produknya mereka tidak perlu ke mana-mana, karena sudah ada pengepul yang datang dari daerah sekitar, bahkan dari Surabaya.?

Kegiatan bertani biasanya dilakukan di pagi hari, baik pada saat menanam, merawat ataupun memanen. Siang hari mereka sudah di rumah, sehingga lebih banyak waktu dengan keluarga. Hal itu membuat kehidupan masyarakat di sana sangat harmonis.?

Selain itu sebagian masyarakat melakukan pekerjaan sampingan dengan berdagang dan melayani wisatawan yang datang dengan menyewakan Mobil Jip, Kuda atau berjualan makanan di tempat wisata. Perpaduan berbagai kegiatan mulai dari upacara adat, pertanian, dan wisatawan telah mendongkrak ekonomi masyarakat di sana sehingga hidup makmur.?

Masyarakat yang rata-rata bemukim di kanan kiri jalan, kebanyakan terlihat memiliki rumah yang bagus. Menurut Heri itu karena kebiasaan masyarakat di sana menginvestasikan uang mereka untuk membangun rumah, membeli kebun, dan alat lainnya yang bermanfaat seperti Mobil Jip dan Kuda.?

"Untuk jual beli tanah dan menikah dilakukan sesama masyarakat tengger, jarang mereka yang menjual tanah atau menikah dengan masyarakat luar," ungkap Heri.?

Melihat kondisi ekonomi Masyarakat Tengger langsung mengingatkanku dengan perusahaan bank yang membawa kami dalam perjalanan itu. Seperti yang telah dilakukan BCA memberikan kredit ke seorang petani sekaligus pedagang buah di Kota Malang yang mempunyai banyak mitra petani apel (Debitur BCA ini Miliki 350 Mitra Petani Apel). Masyarakat Tengger menurut saya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi nasabah BCA.

Penulis: Agus Aryanto
Editor: Vicky Fadil

Bagikan Artikel:

Video Pilihan