Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kebiasaan-kebiasaan Ini Kerap Dikaitkan dengan Rabun Jauh, Mitos atau Fakta Ya?

Kebiasaan-kebiasaan Ini Kerap Dikaitkan dengan Rabun Jauh, Mitos atau Fakta Ya? Kredit Foto: (Foto : Medicalnewstoday)
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rabun jauh merupakan salah satu bentuk kelainan refraksi mata. Ketika mengalami rabun jauh, penderita tidak mampu melihat dengan jelas suatu objek yang letaknya jauh. Padahal, objek tersebut bisa dilihat dengan jelas oleh orang yang penglihatannya normal.

Dikutip dari Alodokter, rabun jauh disebabkan oleh struktur bola mata yang terlalu panjang atau kornea terlalu melengkung. Kondisi ini menyebabkan cahaya yang ditangkap mata terfokus di depan retina, sehingga benda yang jauh terlihat buram.

Ada banyak mitos seputar rabuh jauh atau miopi. Berikut adalah beberapa mitos mengenai rabun jauh beserta faktanya.

1. Rabun jauh hanya terjadi pada anak-anak

Rabun jauh biasanya memang berkembang di masa kanak-kanak, ketika pertumbuhan masih berlangsung. Namun, rabun jauh juga dapat terjadi pada orang dewasa. Salah satunya akibat kebiasaan melihat benda dari jarak yang sangat dekat.

2. Duduk terlalu dekat dengan TV dapat menyebabkan miopi

Kebiasaan melihat benda dari jarak dekat memang dapat meningkatkan risiko terjadinya rabuh jauh. Tapi, jangan langsung mengambil kesimpulan. Bisa saja orang yang sering menonton TV dari dekat memang sebenarnya sudah menderita rabun jauh. Penderita rabun jauh lebih suka menonton TV dari dekat karena mereka sulit melihat jauh.

3. Kacamata dapat memperburuk rabun jauh

Kacamata dan lensa kontak adalah salah satu cara untuk membantu penderita rabun jauh agar bisa melihat dengan jelas. Alat bantu ini memang tidak dapat mengobati rabun jauh, tetapi juga tidak membuat kondisi makin parah. Sebaliknya, kacamata dan lensa kontak justru mencegah kerusakan pada mata akibat kondisi rabun jauh yang tidak ditangani.

Perlu diketahui, rabun jauh tetap dapat bertambah parah meski telah mengenakan kacamata atau lensa kontak. Namun, hal tersebut bukan disebabkan oleh penggunaan alat bantu ini, melainkan oleh kondisi genetik atau kebiasaan sehari-hari.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: