Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Petani Sawit: Meskipun Korban Corona Berguguran, Kami Tak Kelaparan!

Petani Sawit: Meskipun Korban Corona Berguguran, Kami Tak Kelaparan! Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri kelapa sawit mempunyai fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia dalam pemenuhan bahan makanan, produk kebersihan (deterjen/sabun), industri, energi, pakan ternak, biofuel, serta ratusan produk turunan lainnya.

Tidak hanya itu, data mencatatkan bahwa dalam lima tahun terakhir, kelapa sawit menjadi komoditas penghasil devisa negara terbesar untuk Indonesia. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam industri ini dan termasuk masyarakat Indonesia wajib menjaga kestabilan operasional dan fungsinya dengan tetap mempertahankan perannya masing-masing.

Baca Juga: Warning! Jika Corona Berlanjut, Nasib Petani Sawit Semaput

Namun, merebaknya isu yang menyebutkan bahwa petani kelapa sawit meminta bantuan sembako kepada pemerintah karena terancam kelaparan akibat kesulitan mendapatkan akses pangan membuat petani sawit di berbagai daerah di Indonesia berang. Melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), organisasi yang mendapatkan legalitas dari pemerintah, petani sawit yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia menepis isu tersebut dan menilai bahwa informasi yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan serta cenderung menyesatkan.

Sekjen DPP Apkasindo, Rino Afrino, mengatakan bahwa asosiasi sangat mengecam keras isu tersebut karena sepatutnya dalam situasi wabah Covid-19 ini, semua pihak jangan mengeluarkan pernyataan kontroversial dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. "Mereka yang bicara tadi mungkin bukan petani dan tidak punya kebun sawit. Selain itu, mereka hidup bukan dari TBS sawit," tegas Rino.

Rino menjelaskan bahwa kondisi harga TBS kelapa sawit di awal Ramadan tahun ini rata-rata berkisar Rp1.250–Rp1.700/kg. Harga ini jauh lebih baik dibandingkan harga TBS di awal Ramadan tahun 2019 yang berkisar Rp800–Rp1.350/kg. Meskipun tengah dihantui wabah Covid-19, aktivitas petani di perkebunan kelapa sawit masih berjalan normal dan kehidupan ekonomi petani sehari-hari tetap berjalan baik.

Berdasarkan pantauan Apkasindo terhadap kondisi petani sawit Apkasindo di 22 provinsi dan 117 kabupaten/kota hingga hari ini, belum ditemukan adanya petani sawit yang teriak-teriak jika ekonominya anjlok akibat turunnya harga TBS sebagai dampak Covid-19. Sujarno, petani sawit Rokan Hilir, Riau, berpendapat bahwa pernyataan yang menyebutkan petani sawit terancam kelaparan sangatlah menyesatkan karena petani di daerahnya sedang bersemangat merawat tanaman kelapa sawit dari program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Kami yang sedang proses replanting saja gak kelaparan, tetapi malahan diisukan ekonomi petani sawit amblas. Harga TBS kami di Rokan Hilir juga bagus di kisaran Rp1.420/kg. Lalu, kenapa ada pihak yang mengatakan petani terancam kelaparan?" ungkap Jarno dengan heran.

Dorteus Paiki, petani sawit di Manokwari, Papua Barat mengatakan kondisi petani tetap baik dan semua petani sepakat untuk mencegah penularan Covid-19. Paiki juga menjelaskan bahwa tidak ada petani yang kelaparan. Bahkan, petani sawit di Papua Barat saling membantu dan bekerja sama untuk membantu masyarakat lain yang bukan petani sawit yang saat ini tengah menghadapi kesusahan.

"Kami di Papua Barat tetap hidup aman dan sehat walaupun ada ancaman pandemi corona. Sebagai petani sawit di Papua Barat, mohon semua pihak jangan memanfaatkan situasi saat ini untuk kepentingan pribadi atau 'pesanan'. Jangan pula menjadi pengkhianat bangsa," tegas Paiki.

Jafar, petani sawit asal Bengkulu, menjelaskan, kendati terjadi penurunan harga TBS dalam seminggu terakhir, petani masih sejahtera. Jafar merasa tersinggung apabila ada pihak yang mengatasnamakan petani, lalu menyebarkan informasi ancaman kelaparan ini. “Kalau pabrik sawit sampai tutup di saat corona ini, barulah ekonomi petani bisa terganggu. Namun, kami tidak terima jika dikatakan terancam lapar karena kami petani sawit banyak juga yang mengembangkan budi daya tanaman lainnya," jelas Jafar.

Kasriwandi, petani sawit dari Muara Bulian, Jambi mengemukanan bahwa aktivitas kebun sawit tetap berjalan lancar dan normal dengan petani yang tetap mengikuti arahan pemerintah seperti pembatasan sosial. Tidak benar jika dikatakan petani mengalami kelaparan karena hingga saat ini harga TBS masih mampu memberikan penghasilan yang baik kepada petani meskipun sempat terjadi penurunan harga pada bulan sebelumnya.

"Petani sawit itu sangat teruji dengan turun naiknya harga sawit. Justru di saat corona ini, harga TBS kami lebih cantik sebelum ada corona tahun lalu. Jadi, harga turun naik itu biasa. Kalau kelaparan, sangat tidak mungkin, di saat harga TBS Rp800/kg saja kami bahagia apalagi rerata harga TBS petani swadaya saat ini Rp1.500/kg. Sementara itu, harga petani mitra atau plasma sekitar Rp1.681/kg. Strategi petani saat turun harga biasanya mengurangi pemupukan, tidak ada itu istilah petani kelaparan. Mungkin narasumber berita tersebut yang kelaparan," ujar Kasriwandi.

Hal yang sama juga disampaikan Ali, petani sawit di Kalimantan Utara (Kaltara). Ia menjelaskan bahwa justru dengan adanya perkebunan kelapa sawit di Kaltara dapat membuat perekonomian di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia ini mampu bertahan terutama Kabupaten Nunukan dan lainnya. “Bahkan, petani sawit Apkasindo di Nunukan berpartisipasi membantu warga tidak mampu di desa saya sebanyak 200 sak beras. Bantuan ini terus berlanjut lagi bulan depan. Jadi, bagaimana mungkin kami kelaparan?” ungkap Ali.

Andi Kasruddin, petani sawit asal Sulawesi Barat ikut menjelaskan bahwa sepanjang pabrik sawit tetap beroperasi, penghasilan petani tetap aman dan kelaparan tidak akan terjadi. "Bagi kami, petani sawit sudah teruji dan tahan lapar selama membangun kebun sawit dari nol sampai menghasilkan," jelasnya.

Ketua Harian DPP Apkasindo, H. Gusdalhari Harahap, menjelaskan bahwa hubungan antara petani, pabrik sawit, dan pemerintah sangat baik bahkan saling mendukung khususnya saat pandemi Covid-19 ini. Sebaiknya, semua pihak menahan diri untuk tidak  "bermain" dan membuat sensasi melalui isu-isu yang merusak situasi saat ini ketika semua fokus mitigasi corona.

"Kita elemen masyarakat Indonesia harus bahu-membahu untuk menjaga situasi dan iklim ekonomi khususnya perkebunan sawit, apalagi di tengah pandemi ini. Upaya ini sangat dibutuhkan supaya ekonomi Indonesia dapat bangkit dan kuat terutama di saat sulit seperti sekarang," harapnya.

Baca Juga: Pendukungnya Sebut Anies Kerap Diserang Isu Hoaks, Waketum Partai Garuda Sentil: Jika Tidak Mampu Menari, Jangan Salahkan Lantainya

Penulis: Ellisa Agri Elfadina
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel: