Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Dibidik Jadi Kekuatan Agribisnis ASEAN, Ini Tiga Strateginya

Indonesia Dibidik Jadi Kekuatan Agribisnis ASEAN, Ini Tiga Strateginya Kredit Foto: Bappenas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ambisi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan utama agribisnis di kawasan Asia Tenggara mulai ditegaskan dalam forum regional yang mempertemukan pemerintah dan pelaku industri. Posisi ini dinilai realistis mengingat besarnya potensi sektor pangan nasional.

Laporan bertajuk Economic Insights: Unlocking Indonesia’s Agri-Food Powerhouse yang diluncurkan ASEAN Food & Beverage Alliance bersama Oxford Economics menyoroti besarnya peran agribisnis dalam mendorong ekonomi Indonesia. Sektor ini disebut mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta memperkuat perdagangan.

Peluncuran laporan tersebut juga didukung Food Industry Asia dan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan regional. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk mengoptimalkan sektor agribisnis sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi pemerintah, arah kebijakan nasional mulai difokuskan pada transformasi sektor pertanian. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pengolahan.

Deputi Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo menyebut transformasi tersebut menjadi bagian penting dalam visi jangka panjang negara. Pemerintah saat ini tengah mendorong integrasi antara sektor pertanian dan agroindustri.

“Saat ini, kami sedang mengimplementasikan transformasi struktural yang berfokus pada peningkatan produktivitas pertanian dan menghubungkannya dengan pengembangan agroindustri kami,” ujarnya dikuitip dari ANTARA.

Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Ketahanan pangan dan gizi menjadi bagian penting dalam konsep resiliensi nasional yang lebih luas.

Langkah tersebut juga selaras dengan agenda pembangunan dalam RPJMN 2025–2029. Fokusnya mencakup peningkatan nilai tambah, penguatan ketahanan pangan, serta pengurangan kesenjangan wilayah.

Di tingkat regional, posisi Indonesia dinilai semakin strategis. Kawasan ASEAN sendiri merepresentasikan pasar besar dengan jumlah penduduk yang terus tumbuh.

Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN Satvinder Singh menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara untuk memperkuat sistem pangan. Ia menilai sektor pertanian memiliki peran yang jauh melampaui fungsi ekonomi semata.

“Pertanian bukan sekadar sebuah sektor, tetapi sekaligus tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan dan stabilitas sosial kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, ASEAN merupakan pasar dinamis dengan sekitar 700 juta penduduk. Karena itu, kerja sama regional diperlukan untuk menjaga pertumbuhan sekaligus stabilitas pasar tersebut.

Kerangka kerja seperti ASEAN Trade in Goods Agreement dan Digital Economy Framework Agreement disebut menjadi fondasi penting. Regulasi ini memberikan kepastian hukum serta konektivitas bagi pelaku usaha.

Direktur Oxford Economics James Lambert menilai sektor agribisnis Indonesia memiliki skala yang sangat besar. Sektor ini bahkan disebut sebagai salah satu pilar utama penopang ekonomi nasional.

“Di tengah lingkungan perdagangan global yang semakin terfragmentasi, membangun resiliensi melalui penguatan fondasi domestik dan kepastian regulasi sangat krusial,” ungkapnya.

Baca Juga: Bappenas dan Airbus Bahas Kolaborasi Dirgantara! Indonesia Mau Jadi Pemain, Bukan Hanya Pasar

Ia menekankan bahwa ketidakpastian kebijakan dapat menjadi hambatan bagi investasi jangka panjang. Karena itu, modernisasi logistik dan stabilitas regulasi dinilai menjadi kunci daya saing.

Sementara itu, perwakilan Sekretariat ASEAN Pham Quang Minh menegaskan komitmen kawasan dalam memperkuat sektor pangan. Fokusnya adalah menciptakan sistem agribisnis yang tangguh dan berkelanjutan.

ASEAN juga mengandalkan berbagai inisiatif seperti Strategic Plan of Action for Food, Agriculture and Forestry. Program ini diarahkan untuk memastikan rantai pasok tetap stabil di tengah tantangan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement