Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Bye-Bye Gerindra, Kini Golkar Lebih Topcer Soal Elektabilitas

Bye-Bye Gerindra, Kini Golkar Lebih Topcer Soal Elektabilitas Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peta elektoral menuju 2024 semakin dinamis. Temuan survei Dinamika Survei Indonesia (DSI) menunjukkan Partai Golkar menyodok kedua besar dengan elektabilitas 13,6 persen, bertukar tempat dengan Partai Gerindra yang memperoleh elektabilitas 13,3 persen.

"Dua tahun terakhir, pilihan masyarakat terhadap partai tidak begitu beranjak jauh dengan hasil Pemilu 2019. PDIP masih menempati urutan pertama dengan tingkat elektabilitas 13,9 persen, disusul Golkar dengan 13,6 persen dan Gerindra diurutan ketiga dengan angka 13,3 persen," kata Koordinator Survei Nasional DSI, Permadi Yuswiryanto, Minggu (9/1/2022).

Baca Juga: Ferdinand Minta Dibimbing Ulama, Eits Nanti Dulu, Politisi Demokrat Langsung Kasih Kalimat Pedas

Survei dilaksanakan pada rentang 22 Desember 2021 hingga 6 Januari 2022, menggunakan metode multistage random sampling terhadap 1.988 responden yang tersebar di 34 provinsi. Adapun tingkat kepercayaan survei 95 persen dan margin of error 2,2 persen.

Meskipun tetap berada di urutan pertama, elektabilitas PDIP menurun signifikan dibandingkan perolehan suara banteng moncong putih pada Pemilu 2019 sebesar 19,33 persen suara nasional.

 Sementara dukungan terhadap Golkar dan Gerindra sama-sama mengalami peningkatan, dimana pada pemilu lalu Golkar memperoleh suara 12,31 persen dan Gerindra 12,57 persen.

"Meskipun demikian, dinamika tingkat keterpilihan parpol tetap terbuka selama tiga tahun ke depan, hingga jelang Pemilu 2024," ujar Permadi.

Permadi mengungkapkan selain PDIP, Golkar dan Gerindra, survei juga memotret lima partai politik berpeluang kembali memiliki kursi di DPR RI karena memperoleh suara melebihi ambang batas parlemen 4 persen. 

Kelima partai tersebut yaitu PKS yang memperoleh elektabilitas 6,7 persen, PKB 6,2 persen, Partai Nasdem 5,7 persen, Partai Demokrat 5,2 persen, dan PAN 4,2 persen.

Sementara itu, PPP masuk dalam daftar partai yang tidak berpeluang lolos ambang batas parlemen. Partai berlambang Ka'bah senasib dengn PSI yang pada pemilu lalu gagal memiliki kursi di Senayan.

"Hasil survei ini, PPP dengan elektabilitas 2,1 persen, Perindo 1,9 persen, Hanura 1,3 persen, PBB 1,2 persen, Garuda 1,1 persen, PSI 1,1 persen, Berkarya 0,8 persen, dan PKPI 0,6 persen," terang Permadi.

Baca Juga: Mohon Maaf Pak Prabowo, 53,2% Masyarakat Enggan Memilih Presiden Mantan Militer

Bagaimana dengan parpol yang sedang dalam pembentukan kepengurusan atau sedang berusaha untuk lolos sebagai peserta pemilu 2024? Berdasarkan hasil survei, preferensi publik dalam memilih partai baru jika ikut menjadi peserta pemilu maka Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) memiliki tingkat keterpilihan 1,8 persen, Partai Gelora 1,2 persen dan Partai Ummat 0,9 persen.

"Responden yang menjawab tidak tahu atau belum menentukan pilihan (undecided) sebanyak 17,7 persen," pungkas Permadi.

Baca Juga: Eko Kuntadhi Soal Privilege Kaesang ‘Masuk’ Politik: Semua Anak Presiden Punya Hak sama

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Warta Ekonomi dengan Akurat.

Editor: Adrial Akbar

Bagikan Artikel:

WE Academy

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Lihat Semua