Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Teknologi Dinilai Jadi Solusi Tantangan Pengiriman E-Commerce Lintas Batas Asia Tenggara

Teknologi Dinilai Jadi Solusi Tantangan Pengiriman E-Commerce Lintas Batas Asia Tenggara Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asia Tenggara (SEA) siap untuk melompati China untuk menjadi kawasan ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Dengan dukungan 250 juta basis pelanggan, ada kebutuhan yang akan datang di kawasan ini untuk mempercepat tujuan transformasi digital dari ekonomi domestik ke ekonomi internasional. 

Karena penetrasi internet dan smartphone yang tinggi, meningkatnya lalu lintas eCommerce lintas batas, dan portofolio barang online yang berkembang di berbagai saluran digital, kawasan ini akan mencapai nilai eCommerce US$360 miliar pada tahun 2025.

Menurut CEO perusahaan teknologi logistik Shipsy, Soham Chokshi, menyebutkan bila meningkatnya permintaan untuk eCommerce lintas batas akan memberikan tekanan luar biasa pada jaringan rantai pasokan global. Produsen, penyedia eCommerce, dan pengecer akan bermitra dengan beberapa penyedia layanan logistik untuk memastikan kepatuhan SLA, efisiensi biaya, dan kelincahan pengiriman. Selain itu ada juga kebutuhan mendesak bagi bisnis di wilayah ini untuk membuat operasi logistik yang berpusat pada pelanggan.

Baca Juga: Proyeksikan E-Commerce Jadi Booster, Mendag Sebut Ekonomi Digital Indonesia Rp4.531 Triliun di 2030!

Menurut penelitian, 34% konsumen di Asia Tenggara tidak senang dengan pengalaman pengiriman eCommerce mereka sementara lebih dari 90% keluhan pelanggan terkait dengan pengiriman yang terlambat dan komunikasi yang buruk tentang status pengiriman. 

“Tantangan dalam pengiriman eCommerce lintas batas tersebar di seluruh proses inefisiensi yang membuat pengiriman dan biaya dan urusan padat karya. Sayangnya, investasi besar dalam jam kerja dan modal masih belum menjamin pengalaman pengiriman yang lancar,” tuturnya.

Menurut Soham, ada beberapa jenis tantangan dalam logistik lintas batas dan dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga tahap pengiriman, yaitu pra-pengiriman, pelaksanaan pengiriman, dan pasca-pengiriman.

“Tantangan tahap pra-pengiriman yang umum terdiri dari memilih jalur pengiriman, mendapatkan penawaran dari pengirim barang, berkomunikasi dengan pembeli, dan menyortir dokumen melalui email. Tahap ini rentan terhadap kebocoran biaya besar, sebagian besar karena negosiasi manual, kurangnya wawasan tentang harga pasar saat ini, dan komunikasi yang memakan waktu melalui email," terang Soham. 

Pasca pengadaan barang, eksekusi pengiriman dimulai. Ini mencakup pengangkutan ekspor, bea cukai, penanganan dokumentasi, dan yang paling penting pelacakan pengiriman. 

“Sekali lagi, proses manual dan kurangnya visibilitas atas status pengiriman merupakan kemunduran besar pada tahap ini. Tidak adanya pandangan terpusat tentang kemajuan pengiriman membuat rantai pasokan menjadi reaktif dan bukannya proaktif," jelasnya. 

Baca Juga: Riset Perilaku Konsumen E-Commerce, Transaksi Digital dan PayLater Makin Diminati

Platform teknologi manajemen logistik dapat mengatasi berbagai tantangan terkait pengiriman sehingga pengiriman eCommerce lintas batas menjadi efisien, terukur, dan lebih transparan. Pertama, memudahkan bisnis untuk mengajukan Permintaan Penawaran (RFQ) dengan banyak vendor menggunakan satu klik. Hal ini juga memungkinkan perusahaan untuk membandingkan penawaran dari semua vendor ini di bawah satu dasbor, mengakses data historis port-pairwise, menilai penyimpangan dari tarif pasar saat ini, dan mendapatkan tarif pengiriman sehingga mengurangi biaya pengiriman sebesar 6%.

Selain itu, teknologi manajemen logistik bisa mengurangi investasi dalam proses manual karena semua dokumen diunggah secara online oleh para pemangku kepentingan untuk akses langsung dan mudah, termasuk pembaruan real-time dari lokasi kontainer tersedia di dasbor.

Keunggulan lainnya, solusi manajemen logistik berbasis SaaS dapat mengintegrasikan komunikasi di berbagai platform, seperti panggilan, email, teks, dan media sosial. Dengan cara ini, semua informasi tentang setiap paket di berbagai operator tersedia untuk setiap pemangku kepentingan yang relevan setiap saat. Memiliki visibilitas ujung-ke-ujung atas informasi lokasi pelanggan membantu menyelesaikan kueri yang masuk lebih cepat, mengurangi pelanggaran ETA SLA sebesar 37%, dan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan sebesar 64%.

Soham mengatakan, platform manajemen logistik bisa menurunkan biaya tidak terduga hingga 34%. Selain itu, solusi manajemen Smart 3PL menawarkan visibilitas granular ke dalam penundaan dan pengecualian, untuk menghindari kebocoran biaya yang tidak perlu.

“Manfaat penting lainnya adalah analitik dan pelaporan dengan visualisasi yang tepat. Laporan yang mudah dipahami yang siap memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti ke dalam semua proses, dan mendorong pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik dan strategis," tutup Soham. 

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan